nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5.760 Tenaga Medis di Italia Terinfeksi Virus Corona

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Kamis 26 Maret 2020 16:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 26 18 2189416 5-760-tenaga-medis-di-italia-terinfeksi-virus-corona-hucU4gyEiy.jpg Tenaga medis di Italia. (Foto/Atlantic)

ROMA – Lebih lima ribu tena medis di Italia telah terpapr virus corona yang menyebabkan Covid-19

Mengutip Daily Mail, Kamis (26/3/2020) angka yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian Italia pada Rabu, 25 Maret menunjukkan sekitar 5.760 petugas kesehatan telah terinfeksi virus corona.

Nino Cartabellotta, Kepala Yayasan Gimbe yang mengumpulkan data, mendesak agar fenomena ini harus ditertibkan untuk “melindungi mereka yang merawat kita.”

Jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Italia, berdasarkan data pusat penelitian universitas Johns Hopkin per Kamis, 26 Maret, yakni ada 74.386 dan menyebabkan 7.503 orang meninggal. Sedangkan 9.362 orang dinyatakan sembuh.

Baca juga: Khawatir Tularkan Virus Corona, Perawat di Italia Bunuh Diri

Baca juga: Faktor-Faktor Penyebab Kematian Virus Corona di Italia Terbanyak Melewati China

Para ahli menilai faktor harapan usia di Italia yang relatif tinggi menjadi salah satu penyebab kematian tinggi akibat virus corona di negara Meditarania itu

Rata-rata usia orang Italia tinggi. Usia rata-rata populasi keseluruhan adalah 45,4 pada tahun lalu, lebih besar dari negara lain di Eropa.

Harapan usia itu juga tujuh tahun lebih tinggi dari usia rata-rata di China dan sedikit di atas Korea Selatan.

Angka yang dirilis pada Jumat, 20 Maret, menunjukkan usia orang Italia yang mengalami kritis Covid-19 rata-rata berusia 78,5.

Hampir 99 persen dari mereka juga memiliki riwayat sakit sebelumnya. Tingkat kematian Italia juga tinggi tinggi, 8,6 persen.

"Kematian Covid-19 menghantam kelompok usia yang lebih tua," kata profesor Universitas Oxford Jennifer Dowd mengutip AFP.

"Negara-negara dengan banyak populasi para lansia perlu mengambil langkah-langkah perlindungan yang lebih agresif untuk menekan kasus kritis [virus corona," kata Prof Dowd.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini