nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakar Ragukan Data Kasus Virus Corona di Asia Tenggara

Agregasi VOA, · Senin 30 Maret 2020 18:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 30 18 2191406 pakar-ragukan-data-kasus-virus-corona-di-asia-tenggara-PEfAHOVy1s.jpg Bendera negara-negara Asia Tenggara. (Foto/Eco Business)

PHNOM PENH - Para pakar kesehatan mengatakan rendahnya jumlah penderita virus corona (COVID-19) yang dilaporkan sebagian negara Asia Tenggara, sangat terkait dengan minimnya tes.

Mereka memperingatkan angka yang tidak akurat mungkin memberikan kesan aman yang jauh dari kenyataan, dan membantu menyebarkan virus mematikan itu.

Laos dan Myanmar, yang sama-sama berbatasan dengan China, di mana pandemi virus korona merebak akhir tahun lalu, masih melaporkan nol kasus awal pekan lalu. Laos sejak itu mengonfirmasi enam kasus hingga Sabtu (28/3). Myanmar, yang berbatasan dengan China sepanjang lebih dari 2.000 kilometer, mengonfirmasi lima penderita.

Baca juga: Virus Corona, Pakar Kesehatan China Sebut Italia Mengulangi Kesalahan di Wuhan

Kamboja dan Vietnam, yang juga memiliki hubungan budaya dan komersial yang erat dengan China, melaporkan 104 dan 169 orang yang terinfeksi. Angka penderita virus corona di kedua negara itu lebih banyak dari Laos atau Myanmar, tapi masih pada tingkat rendah.

"Itu konsekuensi dari sangat terbatasnya kapasitas tes dan pengawasan yang lemah, dan itu kenyataannya," kata Mark Simmerman, seorang konsultan kesehatan di Thailand dan bekas pakar epidemiologi bagi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS yang pernah menangani respon kawasan itu terhadap wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) pada 2003.

"Angka yang sangat kecil itu tidak realistis," katanya.

Sementara Indonesia, Malaysia dan Thailand, masing-masing telah melaporkan ribuan kasus, meskipun disana sebagian pakar kesehatan mengeluh. Di Indonesia, kepala Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla mengatakan kemungkinan ada infeksi jauh lebih banyak dibanding yang dilaporkan negara itu, karena tes yang rendah.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini