“Kita mudik membawa tanpa disadari membawa benih virus ke kampung. Di kampung kita juga harus diisolasi, kemudian benih yang kita bawa bisa menularkan orangtua kita, saudara kita di kampung yang akhirnya mudaratnya lebih banyak drari manfatnya,” tuturnya.

“Tanpa mengurangi kegairahan kita di bulan Ramadan, kita sebaiknya di tempat kita masing-masing saja, kita melaksanakan salat-salat wajib, salat tarawih, tadarus, dan sebagaiya di rumah,” sambung Fachrul.
Ia berharap pelarangan mudik tidak sedikitpun mengganggu kegembiraan umat Islam dalam menyambut bulan Ramadan. Ia setuju larangan mudik ini diberlakukan pada 24 April atau hari pertama puasa. Alasannya, larangan mudik itu akan memberi efek kejut bagi warga yang masih nekat mengambil ancang-ancang untuk pulang kampung.
“Setuju sekali. Kenapa? Biasanya di awal Ramadan sudah mengambil ancang-ancang, kalau kita sudah mengambil ancang-ancang pulang ke kampung seolah-seolah boleh, tiba-tiba pertengahan Ramadan diumumkan tidak boleh. Jadi, kita sia-sia saja. Jadi, kalau awal Ramadan sudah diingatkan dilarang, sehingga kita enggak usah ambil ancang-ancang lagi pulang ke kampung,” pungkasnya.
(Rizka Diputra)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.