"Dari 51 yang reaktif, adalah tenaga medis dan penunjang yang bertugas di luar pelayanan covid-19. Dari analisa team, kalau hasil swab nantinya positip, analisanya paparan bisa terjadi disaat melayani pasien OTG dirawat jalan, kamar operasi, atau dari luar ketika pulang karena di Kota Bogor sudah 34 kelurahan masuk kategori red zone, jadi banyak ODP dan OTG makanya PSBB sangat penting," ungkapnya.
Dedie menambahkan, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi salah satu pencegahan agar tenaga kesehatan tidak terpapar. Namun, selama ini APD hanya digunakan untuk yang bertugas dipelayanan atau bersentuhan dengan pasien covid-19.
"Salah satu antisipasinya adalah semua tenaga kesehatan dan penunjang harus dilengkapi APD. Namun APD itu barang langka khususnya yg kualitas medis atau medical grade. Untuk petugas medis RSUD dibutuhkan 112 buah APD per hari atau 3.500 APD per hari. Dengan kejadian seperti ini kita perlu menambah APD bahkan untuk hampir semua pegawai non medis dan penunjang," tuturnya.
Saat ini, pihaknya tengah berkoordinasi dengan RSUD Kota Bogor untuk menghentikan pelayanan rawat inap sementara dan fokus kepada para nakes tersebut.
"Untuk sementara kita fokus yang positif rapid test dulu. Saya sedang koordinasikan untuk menghentikan layanan rawat inap dan non covid-19 agar ketersediaan petugas mencukupi," tutupnya.
(Awaludin)