Share

Afrika Selatan Kerahkan 700 Ribu Tentara untuk Berlakukan Lockdown COVID-19

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 23 April 2020 08:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 23 18 2203500 afrika-selatan-kerahkan-700-ribu-tentara-untuk-berlakukan-lockdown-covid-19-MsMRIwJaEu.jpg Foto: Getty.

PRETORIA – Pemerintah Afrika Selatan mengerahkan lebih dari 700.000 pasukan tambahan untuk memberlakukan penguncian (lockdown) untuk menghentikan penyebaran virus corona (COVID-19). Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang menerapkan pembatasan paling ketat guna membendung penyebaran penyakit itu.

Sejak 27 Maret, hanya penyedia layanan penting, seperti petugas kesehatan, penyedia layanan keuangan, jurnalis, dan pekerja ritel, yang diizinkan untuk terus bekerja. Bisnis yang menyediakan layanan penting telah mengajukan izin khusus dari pemerintah yang memungkinkan anggota staf mereka pergi ke luar.

Pembatasan itu termasuk tidak larangan joging di luar, larangan penjualan alkohol atau rokok, juga larangan untuk mengajak jalan-jalan binatang piaraan. Warga tidak boleh meninggalkan rumah kecuali untuk perjalanan penting dan dapat dikenakan hukuman penjara atau denda berat jika melanggarnya.

Meski begitu, petugas keamanan kesulitan untuk menegakkan aturan penguncian yang telah diberlakukan.

Setelah larangan penjualan alkohol diterapkan, ada gelombang penjarahan toko-toko minuman keras.

Beberapa petugas polisi diduga terlibat dalam penjualan ilegal alkohol, bahkan awal bulan ini petugas polisi ditangkap karena membeli alkohol dan mengawal truk pick-up yang penuh alkohol.

Diwartakan BBC, Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan dia akan mengerahkan pasukan tambahan untuk mengawal penguncian yang akan diberlakukan hingga 30 April 2020.

Dia juga mengumumkan paket bantuan ekonomi senilai USD26 miliar yang dimaksudkan untuk melindungi perusahaan dan tiga juta pekerja selama pandemi virus corona.

Afrika Selatan telah memiliki 3.465 kasus virus korona yang dikonfirmasi, negara dengan jumlah kasus tertinggi kedua di Benua Afrika setelah Mesir. Afrika Selatan juga mencatat 58 kematian terkait penyakit yang menyebabkan gangguan pernafasan itu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini