Share

Hotel & Restoran Tutup, Petani di Bali Minta Pemerintah Beli Hasil Panennya

Agregasi Balipost.com, · Selasa 12 Mei 2020 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 12 244 2212875 hotel-restoran-tutup-petani-bali-minta-pemerintah-beli-hasil-panennya-E3XlXd4AH1.jpeg Ilustrasi (Foto : Kementan)

GIANYAR – Banyaknya hotel dan restoran di Bali yang tutup lantaran pandemi virus corona atau covid-19 membuat petani mengalami penurunan pendapatan signifikan karena hasil pertanian yang dulunya disuplai ke hotel dan restoran, kini justru hanya menumpuk di pasar. Nilai jualnya pun rendah.

Ketut Purna, seorang petani asal Desa Singakerta, Kecamatan Ubud beberapa waktu lalu mengatakan covid-19 berdampak signifikan terhadap petani di Kabupaten Gianyar.

Ia bersama sejumlah rekannya pun berharap pemerintah bisa memberi solusi dari kondisi saat ini. Salah satunya, membeli hasil produksi petani untuk disumbangkan ke warga yang terdampak langsung wabah corona.

“Tolong supaya hasil petani ini dibeli oleh pemerintah kemudian disumbangkan. Jangan pemerintah hanya menyumbang mie yang serba instan. Kalau bisa tolong bantu petani, misal cabai kan dibutuhkan oleh semua masyarakat, sekarang petani cabai ini bisa dibantu pemerintah untuk diambil langsung kemudian sumbangkan ke mereka yang membutuhkan,” tegasnya.

Diungkapkan, dulu hasil panen tidak sampai diam beberapa hari, sudah diambil oleh pengepul. “Dulu juga biasanya diambil suplayer untuk dibawa ke hotel, tapi karena kondisi begini, tidak ada lagi yang dikirim ke hotel,” katanya.

Sekarang karena permintaan berkurang, akhirnya hasil produksi petani, khususnya cabai akhirnya menuju pasar. Ironisnya karena kondisi ini merata, akhirnya semua produksi menumpuk di pasar. “Nah karena semua menumpuk di pasar, akhirnya sekarang harga menjadi anjlok,” katanya.

Harga normal cabai besar dijual oleh petani rata-rata Rp35 ribu per kg. Sekarang, harganya anjlok sampai Rp7 ribu per kg.

Baca Juga : Kapolsek Ditusuk, Kapolda Jambi: Hukum Harus Ditegakkan!

Sementara harga cabai kecil dulu bisa sampai Rp50 ribu per kg, namun kini hanya belasan ribu rupiah per kg. “Bahkan cabai kecil harganya bisa Rp100 ribu, tapi sekarang anjlok,” katanya.

Akibat anjloknya harga tersebut, kini pihaknya dibebani biaya operasional yang masih sama. “Biaya tenaga sama, tidak mungkin harga buruh kita kurangi,” ucapnya.

Selain itu ia juga mengajak seluruh masyarakat yang terdampak langsung COVID-19, agar tidak malu turun ke sawah menjadi petani. “Mari sekarang jangan malu terjun untuk bertani, berkebun, ketimbang tidak bisa makan,” katanya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini