Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tradisi Ngabuburit dan Kejenuhan Masyarakat Patuhi PSBB

Hambali , Jurnalis-Minggu, 17 Mei 2020 |20:56 WIB
Tradisi Ngabuburit dan Kejenuhan Masyarakat Patuhi PSBB
Warga Tangsel saat membeli takjil saat PSBB (foto: Okezone.com/Hambali)
A
A
A

Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, membeberkan ada beberapa faktor mengapa masyarakat menganggap tradisi ngabuburit lebih penting dilakukan, ketimbang mematuhi ketentuan PSBB yang membatasi aktivitas mereka di luar rumah.

"Dalam konteks sosiologis, yang mengatur kehidupan masyarakat itu ada 3, yaitu pertama, struktur berupa aturan, ketentuan, pedoman, kebijakan, arahan, semuanya lah yang bersifat instruksi. Yang kedua, ada namanya kultur, budaya, keyakinan, nilai, kebiasaan yang sudah terinternalisasi dalam dirinya. Baru satu lagi, ketiga, yaitu sebuah proses sosial yaitu kesepakatan dalam konteks pengaturan kehidupan," ungkapnya dikonfirmasi terpisah.

"Nah sekarang yang terjadi, kekuatan aturan itu tidak bisa mengatur kekuatan budaya, kekuatan kebiasaan, kekuatan norma kehidupan masyarakat yang sudah tertanam mendalam, tradisi tadi. Jadi tradisi yang sudah terinternalisasi mendarah daging, kemudian dicoba diintervensi dengan aturan, nggak mempan," imbuhnya.

Menurut Yayat, masyarakat tidak terlalu memerdulikan PSBB dalam konteks membatasi aktivitas di luar rumah karena aturan itu terlalu mengikat, tanpa dibarengi dengan upaya memfasilitasi aturan itu. Misalnya dengan pemberdayaan masyarakat saat beraktivitas di rumah atau juga memberikan bantuan sosial kebutuhan sehari-hari.

"Namanya manusia itu nggak mau diatur terlalu mengikat, pasti dia mencari celah. Kalau kemudian dia diatur terlalu ketat, tapi tidak diberi bantuan, tidak difasilitasi, ya sama aja katanya. Jadi kalau ada orang jalan-jalan (ngabuburit), bisa jadi itu sudah pada titik jenuh, bosan. Nah, kejenuhan inilah yang tidak terbaca, harus disikapi oleh pemerintah," lanjutnya.

Masih kata dia, selama ini pemerintah hanya memberikan arahan dan inbauan bahwa masyarakat harus selalu di rumah, beraktivitas di rumah, belajar di rumah, bekerja dari rumah. Sementara, imbauan itu tidak disertai cara bagaimana agar masyarakat bisa melalui fase tersebut tanpa kejenuhan.

"Karena terus terang aja kalau sampai jenuh, namanya manusia pasti akan berontak, selalu ingin bebas, selalu ingin interaksi, kalau pakai handphone saja bosan dia. Ini kan aturan (PSBB) coba merubah kebiasaan-kebiasaan ngabuburit, kongkow, jalan-jalan, kebiasaan yang sudah mendarah daging, pasti nggak mempan. Apalagi ada janji-janji yang dirasa tak pernah terwujud, kok saya sudah patuh diam di rumah, tapi bantuan nggak datang-datang, mereka akan berontak dengan kondisi itu," pungkasnya

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement