Kisah Korban PHK Jalan Kaki Jakarta -Solo untuk Berlebaran di Kampung

Agregasi Sindonews.com, · Senin 18 Mei 2020 16:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 18 512 2215985 kisah-korban-phk-jalan-kaki-jakarta-solo-untuk-berlebaran-di-kampung-8CIrDrs70X.jpg foto: ist

SOLO – Meskipun mudik Lebaran masih dilarang pemerintah untuk menekan peredaran virus corona, tidak membuat Maulana Arif Budi Satrio alias Rio kehilangan akal menjumpai sanak keluarganya di kampung halaman. Awalnya, warga Sudiroprajan, Solo ini mudik dengan kendaraan, tetapi di tengah jalan dia gagal dan disuruh balik oleh petugas.

Tak putus semangat, dia pun nekat mudik dengan berjalan kaki dari Jakarta menuju Solo, namun aksi nekatnya tersebut berhasil diketahui petugas hingga akhirnya dia dikarantina di Gedung Graha Wisata Niaga Solo.

Sebelum terkena dampak corona, Rio adalah seorang sopir bus pariwisata di wilayah Cibubur sejak 2017, namun dia akhirnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena bisnis persewaan bus pariwisata mulai terdampak sejak Maret lalu, sehingga perusahaan tempatnya bekerja melakukan PHK kepada kru bus awal Mei.

"Saya harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup di perantauan tanpa penghasilan," kata Maulana Arif Budi Satrio di Gedung Graha Wisata Niaga Solo, seperti dikutip Sindonews, Senin (18/5/2020).

Tidak punya penghasilan di Jakarta, akhirnya membuat Rio mudik ke kampung halaman di Solo. Kontrakannya di Jakarta dia diserahkan kepada temannya untuk ditinggali meski baru berakhir Juni mendatang.

"Kontrakan saya berikan ke tetangga depan rumah yang kontrakannya sudah habis dan diusir. Karena kasihan tetangga itu memiliki anak kecil, saya meminta tetangga itu untuk menempati kontrakan saya," ungkapnya.

Dia pun mencoba alternatif mudik dengan memanfaatkan moda angkutan transportasi umum bus. Ia rela merogoh kocek sebesar Rp500.000 untuk membeli tiket. Namun moda transportasi tak sesuai harapan. "Yang dipesan angkutan bus, yang datang mobil ELF. Saya nggak mau, akhirnya nggak jadi berangkat," katanya.

Setelah itu, dia mencoba menggunakan kendaraan pribadi. Namun ketika sampai di tol Cikarang malah diminta memutar ke kota awal pemberangkatan. "Saya putus asa dan malah mau berantem di tol Cikarang karena disuruh balik," sambungnya.

Dia pun memutuskan untuk jalan kaki. Ia berangkat dari Cibubur pada 11 Mei 2020 usai sholat Subuh. Dia hanya membawa dua tas yang terdiri dari tas gendong dan tas srempang serta sepatu yang dibungkus kresek. Dirinya memutuskan jalan kaki karena Tuhan memberikan dua kaki. "Saya niatkan untuk pulang dengan berjalan kaki," katanya.

Selama berjalan kaki, dia hanya mengenakan celana pendek serta kaos dan penutup wajah. Sedangkan untuk berjalan, ia lebih memilih mengenakan sandal jepit daripada sepatu. "Saya lebih enak memakai sandal jepit, pakai sepatu nggak kuat," tuturnya.

(fmi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini