nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pandemi Covid-19, Pemimpin G-7 Pertimbangkan Kehadiran dalam KTT

Agregasi VOA, · Jum'at 22 Mei 2020 12:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 05 22 18 2217924 pandemi-covid-19-pemimpin-g-7-pertimbangkan-kehadiran-dalam-ktt-phKNGbCBA3.jpg (Foto: dok/AP)

JAKARTA - Para pemimpin negara-negara G-7 mempertimbangkan gagasan Presiden AS Donald Trump mengenai KTT yang dihadiri langsung oleh mereka, kemungkinan bulan depan, dikutip Voaindonesia.

Seperti diketahui, jumlah kasus virus corona terkonfirmasi di dunia telah melampaui 5 juta.

Trump mengangkat gagasan itu hari Rabu (20/5) sewaktu ia mencuit bahwa AS sedang bertransisi kembali ke kejayaan. “Negara-negara anggota lain juga sedang memulai Kepulihan,” tulis Trump. “Ini akan menjadi pertanda hebat bagi semua, normalisasi!”.

Juru bicara pemerintah Jepang Yoshihide Suga, Kamis (21/5) mengatakan kehadiran PM Shinzo Abe “masih dalam pertimbangan,” dan bahwa kedua negara “melakukan kontak dekat.”

PM Kanada Justin Trudeau mengatakan masalah pertemuan apakah dihadiri langsung atau secara virtual akan melibatkan pemeriksaan mengenai langkah-langkah keamanan apa yang diberlakukan dan rekomendasi dari para pakar.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan ia terbuka melakukan perjalanan guna mengikuti pembicaraan itu jika “kondisi kesehatan memungkinkan,” sedangkan Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia akan “menunggu dan melihat apa yang terjadi.”

Seluruh anggota G-7 telah mulai mencabut pembatasan-pembatasan lockdown yang diberlakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Menteri Ekonomi Jepang, Kamis (21/5) mengatakan para pakar menyetujui rencana pemerintah untuk mencabut situasi darurat di Osaka dan dua prefektur lainnya, dan mempertahankan perintah situasi itu di Tokyo.

Organisasi Kesehatan Dunia, Rabu (20/5) menyatakan pada hari itu tercatat rekor kasus baru virus corona secara global yang mencapai 106 ribu, angka per hari tertinggi sejak wabah dimulai.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam keterangan pers bahwa hampir dua per tiga kasus baru itu dikukuhkan di empat negara saja. Ia tidak menyebut negara-negara itu, tetapi beberapa media menyebut keempat negara itu adalah AS, Rusia, Brasil dan India.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini