Tak Dapat Bantuan Apapun, Tukang Pijat Tuna Netra "Merana" Terdampak Corona

Sholahudin, iNews · Minggu 31 Mei 2020 18:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 31 519 2222493 -qd8DUDMCrG.jpg ilustrasi

MOJOKERTO - Dampak pandemi corona, pijet tuna netra sepi pelanggan. Ironisnya, mereka hingga kini tak dapat bantuan apa pun.

Dampak pandemi corona dirasakan oleh tukang pijet tuna netra di Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sejak dua bulan terakhir sepi pelanggan hingga kehilangan penghasilan.

Kehilangan penghasilan salah satunya dirasakan Agus Zuliawan, seorang pemijat tuna netra di Desa Jati Pasar. Ia sejak pandemi corona bulan Maret lalu, usaha panti pijat yang digelutinya sepi pelanggan.

Jika pada hari normal dalam sehari bisa memijat empat hingga enam orang. Namun kini perhari hanya satu orang atau bahkan tidak sama sekali,

Akibatnya sejak dua bulan terakhir, ia kehilangan penghasilan, hingga harus menutup usahanya dan berpindah rumah kembali dengan orang tuanya di Desa Jati Pasar.

Selain sepi pelanggan, Agus juga mengaku tidak mendapat bantuan apa pun dari pemerintah, baik itu BLT dari Kementerian Sosial, atau pun bantuan lain dari Pemprov Jatim maupun Pemkab Mojokerto berupa sembako atau pun uang tunai.

Meski berkali-kali menanyakan ke perangkat desa, namun tetap tidak ada jawaban, ia disebut tidak masuk daftar penerima bantuan dampak Covid 19, hingga sekarang.

"Saya gak tau ya kemarin itu pada hari Selasa sebelum pencairan hari Minggu katanya orang-orang dapat bansos ternyata saya ndak ikut serta. Soale hari Senin orang-orang ambil bansos hari Minggunya dapat. Saya kok gak dapat akhirnya saya telefon pak lurah Kosim pak lurah Jatipasar, kata pak lurah mungkin sampean gak dapat hari Senin dan dapat hari Selasanya itu program covid ternyata saya tunggu sampek Selasa gak dapet," jelasnya.

"Masalah pijet saya menerima pasien hanya lokal tidak ada dari luar karena saya takut kena virus, barangkali orang itu membawa virus mengantiispasi jika membawa virus saya antisipasi kalau rame bisa lima atau enam skrg satu atau lima hari ndak ada kadang libur enam hari," ungkapnya.

Di organisasi Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Cabang Mojokerto, Agus Zuliawan sebenarnya didapuk sebagai ketua umum. Menurut Agus, dari 50 anggota Pertuni di Kabupaten Mojokerto, sebagian besar tidak mendapat bantuan apa pun.

Padahal mereka berprofesi sebagai tukang pijat dan pengiring musik yang saat ini terdampak Covid 19. Para anggota Pertuni berharap mendapat bantuan khusus lewat organisasi Pertuni sehingga dapat merata ke semua anggota.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini