Dalam waktu singkat, 320 rumah tangga di daerahnya tergabung dalam kelompok yang ia buat di Facebook tersebut.
"Tiga atau empat orang di komplek kami sampai menelepon saya dan bertanya, 'Hai, saya tidak punya Facebook. Tapi apakah boleh kalau saya menambahkan cucu atau keponakan saya di dalam kelompok itu untuk tahu apa yang didiskusikan?" cerita Jack.
"Biasanya kita tidak akan melakukan hal seperti ini dalam situasi normal, misalnya ketika ada orang yang mengirimkan surat berbunyi 'Hai, mari gabung kelompok di Facebook'," katanya.
"Reaksi Anda pasti adalah 'Saya tidak perlu kan melakukannya? Saya sudah punya banyak masalah dalam hidup. Kenapa saya harus menerima banyak notifikasi dan berhubungan dengan kelompok orang yang tidak dikenal dalam Facebook?'"
Namun, Jack mengatakan respon tersebut tidak terjadi di masa yang menurutnya "aneh" ini.
Bermain online bersama dan saling membantu
Setelah beberapa lama, kelompok yang tadinya digunakan untuk memperhatikan kondisi satu sama lain, berubah menjadi sebuah forum untuk bersosialisasi secara akrab.
Keakraban tersebut terbangun melalui beberapa aktivitas bermain 'game', seperti salah satunya yang berjudul 'pub trivia quiz without the pub' atau kuis trivia di dalam pub yang tidak dimainkan di dalam pub.
Dalam permainan online ini, setiap rumah terbagi dalam beberapa kelompok untuk menjawab pertanyaan.
"Kami tidak dapat melakukannya secara langsung di pub sekarang, jadi orang-orang melakukannya secara online," kata Jack.
Selain interaksi yang bertambah, kelompok online tersebut juga menjadi sarana memberikan bantuan kepada sesama.
"Ada seorang koki di komplek kami yang kehilangan pekerjaan, seperti orang lainnya di dunia perhotelan," kata Jack.