Kasus DBD Melonjak, Pemprov Jabar Tak Bisa Fogging karena Pandemi Covid-19

CDB Yudistira, Okezone · Kamis 25 Juni 2020 14:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 25 525 2236174 kasus-dbd-melonjak-pemprov-jabar-tak-bisa-fogging-karena-pandemi-covid-19-xaO6LJe9Ny.jpg Ilustrasi

BANDUNG - Provinsi Jawa Barat, masuk dalam kategori tertinggi kasus demam berdarah dengue (DBD). ‎Dari catatan Kemenkes ada 10 provinsi dengan sebaran kasus DBD tertinggi di Tanah Air.

Urutan pertama yakni Jawa Barat 10.594 dengan kasus, Bali 8.930 kasus, NTT 5.432 kasus, Jawa Timur 5.104 kasus, Lampung 4.983 kasus, NTB 3.796 kasus, DKI Jakarta 3.628 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus, Riau 2.143 kasus, dan Sulawesi Selatan 2.100 kasus.

Untuk itu Dinkes Provinsi Jabar, ‎tengah melakukan penanganan antisipasi DBD, dengan mekanisme Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), untuk menekan angka kasus DBD.

"Tantangannya karena situasi pandemi Covid-19 jadi tidak bisa dilakukan Fogging Focus karena masyarakat tinggal di rumah," kata Dinkes Jabar Berli Hamdani, saat dikonfirmasi via ponselnya, Kamis (25/6/2020).

Alasan tidak bisa dilakukan fogging, karena dianggap berbahaya jika masyarakat berdiam diri di rumah. Sedangkan saat ini pemerintah tengah menghimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah, pada Pandemi Corona.

"(Fogging) ‎berbahaya karena yang disemprotkan dengan asap tersebut adalah insektisida," katanya.

Mekanisme SKDR sendiri, dilakuka‎n pada pelaporan kasus di lapangan. Para petugas kesehatan seperti bidan, mantri dan puskesmas pembantu (pustu) melakukan pelaporan kepada petugas surveilans di Puskesmas melalui SMS/HT.

Baca Juga: DBD Menggila di Tasikmalaya, 16 Orang Meninggal

Petugas surveilans puskesmas akan mengirimkan data yang diterima ke kabupaten juga melalui SMS. Data akan dientri dan dianalisis oleh kabupaten, lalu dikirim melalui e-mail ke ke provinsi dan pusat dengan menggunakan software khusus yang dapat menghasilkan peringatan dini (sinyal kewaspadaan) menurut tempat, waktu dan jenis penyakitnya.

Bila dalam analisis muncul alert atau signal maka kabupaten segera lakukan respons (verifikasi data, penyelidikan epidemiologi, konfirmasi laboratorium dan penanggulangan) sesuai dengan situasi dan kondisi. Respons juga dapat dilakukan secara bersama dengan puskesmas.

Berli menuturkan, dari data Dinkes Jabar, periode Januari hingga dengan Mei 2020, ada 9281 kasus. Dari data itu, yang meninggal tercatat ada 78 ‎orang.

Adapun langkah untuk menekan DBD di Jabar, diantaranya‎ peningkatan surveilan teru‎tama pada PJB (Pemantauan Jentik Berkala) melalui Program 1R1J (1 rumah 1 jumantik). Kemudian melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 3M meliputi menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.

M‎enutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Serta ‎memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.

"Kita juga mengimbau untuk ‎menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan bubuk abate) pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan‎," katanya.

(kha)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini