DEMAK - Perawakannya tidak terlalu besar. Malah bisa dibilang tubuhnya berukuran kecil untuk orang-orang seusianya. Hanya saja tato yang menghiasi hampir sekujur tubuh dan suara parau, membuatnya disegani atau lebih tepatnya ditakuti.
Pria ini sejak delapan bulan lalu menjadi salah satu pasien di Panti Rehabilitasi Sosial (PRS) Maunatul Mubarok, Sayung, Demak, Jawa Tengah. Kini peci warna hitam dan sarung tak pernah dari kesehariannya. Tak lupa, baju muslim lengan panjang selalu dikenakan sekaligus menutupi tato di tubuhnya.
"Ini yang lagi azan Mas Antoni (bukan nama sebenarnya). Suaranya merdu kan? Logat Arabnya juga sudah fasih. Padahal baru hitungan bulan di sini," ujar seorang konselor PRS Maunatul Mubarok, Muhammad Faizun, Minggu (28/6/2020).
Dia menceritakan, saat tiba di panti rebailitasi itu Antoni masih sangat labil. Kondisi yang jauh berbeda antara di rumah dengan panti membuatnya ingin segera pulang ke Tangerang Banten. Antoni kerap uring-uringan karena tak betah.
"Terutama ketika sepekan di sini, Antoni pengennya pulang. Dia menghubungi keluarga untuk dijemput atau nekat pulang sendiri. Alasannya macem-macem mulai dari makanan tak enak hingga lingkungan pesantren seperti ini," terang dia.
"Pas awal-awal itu dia sering mau muntah kalau makan. Ya mungkin kan beda dia di rumah banyak pilihan makanan, sementara di sini makan ya seadanya. Apalagi ada pasien gangguan jiwa juga. Jadi harus bisa nerima lah," lugasnya.
Selama sepekan, pihak panti belum melakukan terapi khusus kepada Antoni. Pemuda berusia sekira 18 tahun itu dibiarkan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kegiatan salat berjamaah maupun mengaji tak diikutinya. Padahal semua pasien lain dengan kesadaran sendiri menenteng kitab ke musala.
"Memang kita biarkan, tapi kita jaga perasaannya juga agar mulai kerasan dengan lingkungan baru. Biar dia mulai tergugah sendiri untuk ikut ke musala. Lama-kelamaan dia ikut, mungkin karena sendirian di kamar. Mulai ikut salat dan mengaji. Dari situlah kita mulai proses terapinya," ungkap dia.