144 Perawat di Jatim Terpapar Corona, 9 Meninggal Dunia

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 02 Juli 2020 10:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 02 519 2239897 144-perawat-di-jatim-terpapar-corona-9-meninggal-dunia-IPjfoVNYWs.jpg ilustrasi. (Shutterstock)

SURABAYA – Ratusan perawat di Jawa Timur yang menjadi garda terdepan penanganan corona tertular. Hal ini menjadi bukti profesi perawat juga menjadi hal rentan terjangkit corona dari pasien positif yang dirawatnya.

Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur Prof Nursalam menyebutkan bila dari data yang masuk kepadanya, setidaknya ada 144 perawat di Jawa Timur terpapar corona.

"Ada 144 perawat yang terpapar corona, sembilan di antaranya meninggal dunia. Persentasenya 50 persen perawat yang tugas di puskesmas dan 50 persen lagu di rumah sakit," ucap Nursalam dikonfirmasi pada Kamis (2/7/2020).

Dari jumlah tersebut, ada yang tengah menjalani isolasi mandiri di rumah sakit. Namun, ada juga yang mengalami gejala klinis parah sehingga harus menggunakan alat bantu medis, seperti ventilator.

"Jumlahnya 30 persen dirawat di rumah sakit, ada yang pakai ventilator, ada beberapa yang sudah tidak. Tapi ada yang kondisi parah memang," ucapnya.

Pihaknya menyebut bila para perawat ini memang memiliki risiko tinggi tertular corona akibat pekerjaannya.

"Perawat bekerja 24 jam memenuhi kebutuhan pasien A sampai Z, membantu semua tindakan. Makanya risiko tertularnya lebih tinggi, ini bisa menjadi catatan," tuturnya.

Beberapa perawat, disebut Nursalam, bahkan tak boleh pulang ke rumah sehingga memerlukan kebutuhan rumah singgah khusus. Selain itu, dirinya berharap jam kerja perawat bisa diatur agar mereka bekerja tidak terlalu lelah yang berimbas pada menurunnya daya tahan tubuh, hingga mudah tertular corona.

Ia menegaskan, kebutuhan perawat terkait alat pelindung diri, asupan nutrisi makanan, vitamin, hingga insentif gaji juga harus diberikan.


Baca Juga : Kisah Haru Ibu Harus 'Berpisah' dengan 2 Anaknya karena Positif Covid-19

"Catatan kami yang perlu diadvokasi adalah pemenuhan kebutuhan dasar terutama dari segi kesehatan, makanan nutrisi, vitamin, istirahatnya, tolong dipenuhi," katanya.

"Pengaturan shift kerja juga, ada yang seminggu masuk, seminggu libur, tapi ada yang bervariasi dan tidak demikian. Sehingga berakibat beban kerjanya terlalu berat, kurang istirahat dan bisa menyebabkan kontak dengan pasien terlalu sering," tuturnya.

Baca Juga : 90% Pasien Corona yang Meninggal di Surabaya Ada Penyakit Penyertanya

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini