Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ada Klaster Covid-19 di Secapa TNI AD dan Ponpes Gontor, Ini Kata Pakar Epidemiologi

Avirista Midaada , Jurnalis-Sabtu, 11 Juli 2020 |05:30 WIB
Ada Klaster Covid-19 di Secapa TNI AD dan Ponpes Gontor, Ini Kata Pakar Epidemiologi
Ilustrasi (Foto: Ist)
A
A
A

SURABAYA – Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dr. Windhu Purnomo menyayangkan masih adanya aktivitas pendidikan di pondok pesantren dan asrama di tengah masa pandemi Covid-19 saat ini. Hal ini membuat rawan adanya klaster penyebaran baru corona, seperti yang terjadi Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD di Bandung dan Ponpes Modern Gontor 2 Ponorogo.

Menurutnya, kedua pengurus institusi dan pemerintah daerah setempat tak bisa belajar dari kasus penyebaran corona di klaster Ponpes Temboro, Magetan. Padahal, di saat yang sama kedua wilayah tersebut baik Bandung dan Ponorogo, tidak berada di zona hijau atau kuning corona.

“Semua yang pendidikan seperti itu di asramakan sangat berisiko tinggi, itu belum waktunya di masa pandemi, ketika zona masih ada yang merah, tidak boleh sebetulnya membuka ponpes dan membuka pendidikan, apalagi tinggal di situ,” ujar Windhu saat dihubungi okezone, Jumat (10/7/2020).

“Yang belajar terus pulang saja, tidak boleh dibuka dulu, apalagi kemudian yang belajar kemudian mondok dan berasrama di situ, makin berbahaya. Contohnya Secapa itu, contoh bagus buat pelajaran, kalau sebelumnya di Jatim ada Ponpes Temboro, saat ini Ponpes Gontor itu tidak dijadikan pelajaran,” tambahnya.

Baca Juga:  Gugus Tugas: Kasus Covid-19 Meningkat karena Pemeriksaan Kian Banyak 

Oleh karena itu, pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair ini meminta untuk sekolah, pondok pesantren, dan pendidikan yang berbasis asrama tidak dibuka terlebih dahulu sampai benar – benar berada di zona dengan risiko rendah penyebaran corona.

Namun, bila memang zona sudah menjadi kuning dengan penularan rendah, sekolah berasrama maupun pondok pesantren boleh dibuka dengan memperhatikan persyaratan domisili asal santri maupun siswanya. “Sekolah atau pondok bisa memetakan dari mana saja siswanya-santrinya, kita petakan dulu. Kan punya data santri domisilinya darimana masing – masing, kemudian di lihat domisilinya itu berada di zona apa, bisa kita lihat zona dengan risikonya,” tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement