Kisah Kakek Pejuang Kemerdekaan Pengintai Pergerakan Belanda yang Berakhir di Jalanan

Septyantoro Aji Nugroho, iNews · Jum'at 14 Agustus 2020 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 14 512 2262146 kisah-kakek-pejuang-kemerdekaan-pengintai-pergerakan-belanda-yang-berakhir-di-jalanan-VqLSKNOzEK.JPG Mbah Semprong, Kakek pejuang kemerdekaan (foto: iNews)

SOLO – Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 2020 akan merayakan hari kemerdekaan ke-75 tahun. Namun, kemerdekaan yang sesungguhnya belum sepenuhnya dirasakan. Bangsa ini belum merdeka dari yang namanya kemiskinan.

Diantaranya dialami Ngatimin Citrowiyono, kakek pejuang kemerdekaan di masa penjajahan, bertugas menjadi mata-mata untuk mengawasi pergerakan Belanda.

Kini sosok tersebut harus tetap berjuang jualan mainan untuk menyambung hidupnya. Usiaya sudah tidak lagi muda, 87 tahun. Diusia itu, kakek yang akrab disapa Mbah Semprong ini, hingga kini belum menikmati betul arti kemerdekaan. Ya mantan pejuang ini kini harus bergelut dengan mainan anak anak yang dibuatnya untuk menyambung hidup.

Meski sudah tidak lagi muda, badannya tidak lagi tegap dan gigi banyak yang tanggal, semangat Mbah Semprong tetap membara.

 kakek pejuang

Sudah 75 tahun Indonesia Merdeka, pak Min (sapaan lain mbah Semprong) masih tetap berjuang, dia tidak lagi mengangkat senjata, namun berjuang di pinggiran jalan dengan perjuangan yang berbeda.

Mbah Semprong tidak mempedulikan panasnya terik matahari, terkadang harus berbasah kuyup lantaran hujan yang mengguyur, namun semangatnya tak pernah luntur.

Dimata rekanya sesama pedagang kaki lima, kakek kelahiran Colomadu, Karanganyar tahun 1933 ini merupakan sosok yang inspiratif dan semangatnya tidak kalah dengan anak muda.

Purwanto, salah satu rekan pedagang kaki lima mengatakan, mbah Semprong sering bercerita di masa penjajah Belanda, dimana dia ikut berjuang bersama ayahnya yang gugur tertembak pasukan Belanda.

“Saya biasa panggil pak Min, dia sosok yang gigih, benar-benar pejuang kemerdekaan, dia sering bercerita ketika melawan Belanda dalam agresi militer Belanda II di Donohudan, Boyolali,” kata Purwanto.

“Setahu saya tugasnya berat, sebagai mata-mata mengawasi pergerakan Belanda. Waktu itu usianya masih muda sekali sekitar 17-an. Nah, karena dianggap masih kecil justru penyamaran ini berhasil dan tidak dicurigai oleh musuh,” tuturnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini