Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Hari Aksara Internasional , Masih Banyak Pihak Miskonsepsi Tentang Literasi

Fitria Dwi Astuti , Jurnalis-Selasa, 08 September 2020 |18:56 WIB
Hari Aksara Internasional , Masih Banyak Pihak Miskonsepsi Tentang Literasi
Foto: Dok Okezone
A
A
A

JAKARTA-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-55 yang jatuh pada pada 8 September 2020, diselenggarakan secara virtual yang disiarkan secara langsung melalui official youtube Kemendikbud dengan mengusung tema ”Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi Covid-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan”. Acara ini dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim,  Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab dan Director of Policies and Lifelong Learning System UNESCO Mr. Borhene Chakroun.

Dalam acara webinar Peringatan Hari Aksara Internasional tersebut, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan di tengah situasi pandemi saat ini, Kemendikbud terus bergotong-royong memperjuangkan pendidikan yang inklusif dengan harapan dan cita-cita untuk mengentaskan buta aksara dan bersama-sama menghadirkan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia dengan berbagai strategi.

Pemerintah senantiasa terus mengupayakan lepas merdeka dari permasalahaan buta aksara dengan berbagai strategi penuntasan buta aksara. “ Upaya yang dilakukan diantaranya dengan memutakhirkan data buta aksara, memperluas layanan program pendidikan keaksaraan, mengembangkan sinergi dalam upaya menuntaskan buta aksara dan pemeliharaan kemampuan keberaksaraan warga masyarakat serta mengakselariasi inovasi layanan program pada daerah terpadat buta aksara” tegas Nadiem.

Dalam kesempatan yang sama, yang dihadiri Duta Baca Indonesia,  Najwa Shihab memaparkan banyak fakta lapangan, masih banyak pihak  yang belum memahami konsep dari literasi sesungguhnya. Misalnya literasi diartikan hanya sebatas kemampuan membaca namun nyatanya literasi adalah kemampuan menalar dan berpikir dalam memproses informasi.

“ Ada miskonsepsi soal `belajar untuk membaca` namun `tidak membaca untuk belajar` karena ini adalah dua hal yang berbeda, orang tua di Indonesia kerap kali mendorong anak balitanya untuk bisa segera bisa membaca dan mengeja dan merasa orang tua merasa tugasnya sudah selesai sampai disitu’’ ujar Najwa.

Najwa memaparkan rata-rata siswa di Indonesia saat dites kemampuan dasar saat membaca selalu bagus, namun ketika diminta mengolah dan mengambil maka dari suatu teks nilainnya jauh menurun.

Miskonsepsi soal literasi selanjutnya, ada masih banyak anak yang 'aktif membaca' tapi tidak 'membaca aktif'. “Terkadang baca banyak tulisan bukan malah meningkatkan kemampuan malah bikin jadi ngantuk, karena dia hanya aktif membaca bukan membaca aktif,” tutur Najwa.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement