China Dilaporkan Kirim Ribuan Orang Tibet ke Kamp Kerja Paksa

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 23 September 2020 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 18 2282592 china-dilaporkan-kirim-ribuan-orang-tibet-ke-kamp-kerja-paksa-qADkUP9tsN.jpg Foto: BBC.

SEBUAH penelitian mengatakan bahwa China telah memaksa ratusan ribu orang di Tibet masuk ke dalam pusat pelatihan kejuruan bergaya militer. Laporan oleh Jamestown Foundation itu didasarkan pada laporan media pemerintah, dokumen kebijakan dan citra satelit yang menurut Reuters telah diverifikasi.

Penelitian itu juga membandingkan situasi dengan apa yang telah didokumentasikan di antara etnis Uighur di wilayah Xinjiang.

Otoritas China belum mengomentari temuan tersebut.

BACA JUGA: Pakar dan Aktivis HAM Desak PBB akui "Genosida Uighur" di China

Tibet adalah wilayah terpencil dan sebagian besar beragama Buddha di Himalaya. Daerah itu diatur oleh China, yang dituduh menekan kebebasan budaya dan agama di sana, sebagai wilayah otonom.

Tuduhan itu dibantah Beijing yang mengatakan pihaknya mendorong kemajuan dan pembangunan di Tibet.

Presiden Tibet di pengasingan Lobsang Sangay termasuk di antara mereka yang sebelumnya menuduh bahwa orang-orang Tibet dipaksa masuk ke kamp kerja paksa dan pusat pelatihan untuk "pendidikan".

BACA JUGA: China Paksa Wanita Uighur Pakai Kontrasepsi untuk Tekan Populasi Minoritas Muslim

Namun, skala program yang dirincikan dalam studi ini menunjukkan bahwa program tersebut jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Laporan yang ditulis oleh Adrian Zenz, seorang peneliti independen di Tibet dan Xinjiang, menyebutkan bahwa 500.000 orang, sebagian besar adalah petani dan penggembala subsisten, dilatih di kamp-kamp itu dalam tujuh bulan pertama 2020.

Pihak berwenang China dilaporkan telah menetapkan kuota untuk pemindahan massal para pekerja tersebut di Tibet dan ke bagian lain China. Menurut rencana pemerintah China yang telah dikutip dalam laporan tersebut, skema pelatihan itu adalah untuk mengembangkan "disiplin kerja, bahasa China dan etika kerja".

Penelitian tersebut menambahkan, program pelatihan China itu menyebabkan sebagian besar pekerja berakhir pada pekerjaan berupah rendah, termasuk di bidang manufaktur tekstil, konstruksi dan pertanian.

"Dalam konteks kebijakan etnis minoritas Beijing yang semakin asimilasi, sepertinya kebijakan ini akan mendorong hilangnya warisan linguistik, budaya dan spiritual dalam jangka panjang," demikian diperingatkan laporan tersebut sebagaimana dilansir BBC.

Laporan tersebut mengatakan program tersebut memiliki kemiripan dengan skema tenaga kerja di Provinsi Xinjiang, di mana pihak berwenang China dituduh melakukan penahanan massal terhadap sebagian besar penduduk Muslim Uighur.

"Baik di Xinjiang dan Tibet, pengentasan kemiskinan yang diamanatkan negara terdiri dari skema top-down yang memperluas kontrol sosial pemerintah jauh ke dalam unit keluarga," katanya.

Namun, studi Jamestown menekankan bahwa di Tibet, skema tenaga kerja "berpotensi tidak terlalu memaksa", dengan beberapa orang Tibet secara sukarela berpartisipasi dan melihat pendapatan mereka meningkat sebagai hasilnya.

Terlepas dari perbedaan ini dengan Xinjiang, laporan tersebut menyimpulkan bahwa ada "kehadiran sistemik dari indikator yang jelas dari pemaksaan dan indoktrinasi” ditambah dengan “perubahan yang mendalam dan berpotensi permanen dalam mode mata pencaharian, sangat bermasalah," dalam skema tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini