Yuk, Mengenal Kain Tradisional Khas Indonesia

Yaomi Suhayatmi, · Jum'at 09 Oktober 2020 11:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 1 2290906 yuk-mengenal-kain-tradisional-khas-indonesia-GYX90CLu0s.jpg Foto : Dok.Okezone

Indonesia memang kaya akan budaya dan adat istiadat. Selain ragam makanan dan bahasa, kamu juga menemukan pakaian adat khas setiap daerah. Berbicara soal pakaian adat, tentu tidak lepas dari kain tradisional yang menjadi bahan dasarnya.

Kain-kain tradisional Nusantara juga menjadi idola di dalam maupun luar negeri. Memang, kain tradisional ini harganya tidak murah. Tapi, kalau kamu ingin memiliki suvenir khas dari daerah-daerah yang kamu kunjungi saat traveling #DiIndonesiaAja, kain-kain tradisional ini bisa menjadi opsi.

Kain batik adalah salah satu jenis kain tradisional khas Indonesia yang telah populer hingga tingkat mancanegara. Sudah banyak yang memilih kain batik sebagai salah satu bahan untuk dijadikan pakaian atau bahkan oleh-oleh khas dari Indonesia. Selain batik, masih banyak jenis kain tradisional Indonesia lainnya yang tak kalah cantik bernuansa eksotis. Masing-masing memiliki kekhasan dan filosofi daerah asalnya. Yuk, kita mengenal keindahan kain tradisional Indonesia:

Songket Palembang

Songket mungkin menjadi andalan lain dari kota Palembang setelah pempek. Songket sendiri memiliki arti ‘mengait’ atau ‘mencungkil’, ini terkait dengan teknik pembuatan kain tersebut yang mengaitkan dan menyelipkan benang emas. Kamu bisa menemukn berbagai motif berbeda untuk songket, di mana masing-masing motif memiliki makna berbeda.

Beberapa motif songket Palembang yang terkenal antara lain: Saik Kalamai, Buah Palo, Berantai Merah, Kunang-Kunang, Simasam dan Berantai Putiah. Karena harganya termasuk mahal, kain songket biasanya digunakan saat upacara adat, pesta ataupu perayaan. Kalau kamu ingin mencari kain ini langsung di Palembang, coba saja datangi daerah Pandai Sikek dan Silungkang.

(Foto : Okezone)


Ulos Batak

Kain yang satu ini juga pastinya sudah tidak asing lagi di telinga. Ulos telah dikembangkan secara turun-temurun oleh masyarakat Sumatera Utara dan menjadi aksesoris kebanggaan masyarakat Batak. Seperti halnya songket, ulos biasanya digunakan pada acara-acara khusus, bisa pernikahan, pemakaman atau upacara adat lain.

Tentu saja, motif dan warna harus diperhatikan saat menghadiri salah satu dari acara tersebut. Warna dominan pada ulos biasanya adalah merah, hitam dan putih yang dihiasi ragam tenunan dari benang emas atau perak.

 

(Foto : Okezone)

Tenun Bugis

Kain tradisional ini lebih dikenal dengan nama sarung sutera Bugis. Kain ini biasanya ditenun menggunakan benang sutera untuk menghasilkan berbagai motif dan warna yang cantik. Biasanya, kain tenun Bugis dipakai sebagai bawahan dari kebaya atau baju kurung.

Kamu bisa menemukan berbagai motif sarung sutera Bugis, diantaranya Balo Renni (kotak-kotak kecil), Balo Lobang (kotak-kotak besar) dan Bombang (motif zig-zag yang menggambarkan gelombang lautan). Warna dan motif kain yang cantik itu menjadikan sutera Bugis sering disertakan dalam hantaran lamaran atau pernikahan.

(Foto : Okezone)

Tenun Ikat Lombok

Ini dia kain tradisional yang sedang populer di kalangan fashionista. Kain lokal daerah Lombok ini punya motif khas yang cantik sehingga kini banyak wanita yang memakainya sebagai outerwear. Tapi, tentu saja tidak semua orang bisa memiliki kain ini. Karena teknik pembuatannya yang cukup rumit, tidak heran kalau harga tenun ikat ini terbilang mahal.

Tenun ikat sendiri dibuat dari kain lungsin yang sudah dicelup ke dalam zat pewarna alami guna mendapatkan motif sesuai keinginan. Selain itu, berbeda dengan songket yang motifnya hanya terlihat pada salah satu sisi kain, motif tenun ikat bisa dilihat di kedua sisi kain.

(Foto : Dinas Koperasi NTB)

Kain Gringsing

Jangan heran kalau kamu melihat kain gringsing mirip dengan tenun ikat Lombok. Pasalnya, kain gringsing memang berasal dari ‘tetangga dekat’ Lombok, yaitu Bali, tepatnya di Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem. Yang istimewa dari kain ini adalah, ini merupakan satu-satunya kain yang dibuat menggunakan teknik tenun ikat ganda yang memerlukan waktu 2 hingga 5 tahun.

Kain gringsing berasal dari kata ‘gring’ yang berarti ‘sakit’ serta ‘sing’ yang berarti ‘tidak’. Memang, kain ini dipercaya bisa menjadi penolak bala. Tidak heran jika kain ini kerap digunakan dalam berbagai upacara adat di Bali seperti upacara potong gigi, pernikahan atau upacara keagamaan lain.

(Foto : Okezone)

Batik

Siapa sih yang tidak kenal kain batik? Kain tradisional ini memang paling dikenal wisatawan mancanegara sehingga menjadikannya semacam identitas bangsa Indonesia. Kain batik dibuat menggunakan malam dan memiliki desain batik berbeda di setiap daerah penghasilnya.

Beberapa budaya yang masuk ke Indonesia ikut mempengaruhi ragam warna dan corak batik yang ada saat ini. Misalnya, batik berwarna cerah dipopulerkan oleh warga Tionghoa yang juga mempopulerkan corak phoenix.

Sementara itu, desain batik bunga-bunga dan benda-benda seperti gedung atau kereta merupakan pengaruh dari bangsa Eropa yang pernah menjajah negeri ini. Jika dulu batik hanya digunakan pada acara-acara resmi, kini batik sudah menjadi pakaian sehari-hari, terutama bagi karyawan yang biasanya diwajibkan menggunakan batik pada hari tertentu.

Batik Tulis (Foto : Okezone)

Kain-kain di atas hanya sebagian dari kekayaan kain tradisional Indonesia. Masih banyak kain tradisional yang memiliki motif tak kalah cantik dengan teknik pembuatannya sendiri. Tapi, yang pasti, mengenal keindahan warisan budaya seperti ini membuat kita semakin cinta dengan Indonesia.

Yuk, wujudkan rasa cinta Tanah Air dengan bangga pakai kain tradisional asli Indonesia. Ikuti juga kontes foto dan video #BatikItuAsyik dengan mengenakan batik atau kain tradisional bermotif khas daerah. Periode kontes akan berlangsung 2 - 16 Oktober 2020. Pemenang akan mendapatkan tiga signature batik eksklusif dan 10 hadiah menarik. Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi tautan ini.

CM

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini