Awas, 4 Miliar Orang Diperkirakan "Overweight" pada 2050

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 19 November 2020 16:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 18 2312468 4-miliar-orang-diperkirakan-overweight-pada-2050-hrFISc65FP.jpg Foto: Okezone

JERMAN - Diperkirakan akan ada lebih dari empat miliar orang yang mengalami “overweight” atau kelebihan berat badan pada 2050.

Sebanyak 1,5 miliar diantaranya akan mengalami obesitas. Sebaliknya, 500 juta orang kemungkinan besar akan kekurangan berat badan dan hidup di ambang kelaparan.

Ini adalah hasil penemuan terbaru yang dilakukan Institut Potsdam untuk Dampak Iklim (PIK) dari Jerman. Mereka mengatakan semua itu disebabkan kebiasaan makan setiap orang di dunia global.

PIK mengatakan jika tren saat ini tentang apa dan bagaimana orang makan di berbagai belahan dunia terus berlanjut, kesenjangan nutrisi yang sudah terjadi akan semakin parah pada 30 tahun mendatang.

Pada 2050, laporan PIK memperkirakan 16 persen populasi global akan mengalami obesitas dan hampir setengahnya, yakni 45 persen akan mengalami kelebihan berat badan.

Untuk memprediksi bagaimana nutrisi global akan berubah dalam dekade mendatang, studi ini melihat tren jenis makanan yang dimakan orang, bagaimana populasi tumbuh, bagaimana makanan diproduksi, dan terbuang percuma.

(Baca juga: Salut, Para Pemilik Rumah ini Tidak Takut Membiarkan Orang Asing Tinggal di Rumahnya)

Para peneliti Jerman memprediksi permintaan akan makanan akan melonjak hingga 50 persen secara keseluruhan dengan permintaan susu dan daging berlipat ganda karena negara-negara kaya menyedot sumber daya dari yang lebih miskin, sehingga semakin banyak orang akan kekurangan makan, bahkan kelaparan.

“Ada cukup makanan di dunia - masalahnya adalah orang-orang termiskin di planet kita tidak memiliki pendapatan untuk membelinya,” ungkap penulis utama penelitian, Dr Benjamin Bodirsky, dikutip Daily Mail.

“Dan di negara kaya, orang tidak merasakan konsekuensi ekonomi dan lingkungan dari membuang-buang makanan,” tambahnya.

Padahal, sampah diperkirakan akan meningkat antara saat ini hingga 2050. Tren ini dapat menyebabkan percepatan pemanasan global dan meningkatkan kelangkaan pangan.

“Meningkatnya limbah makanan dan konsumsi protein hewani berarti bahwa dampak lingkungan dari sistem pertanian kita akan lepas kendali,” terangnya.

“Apakah gas rumah kaca, polusi nitrogen, atau penggundulan hutan: kita mendorong batas-batas planet kita - dan melampauinya,” tambahnya.

Dia dan timnya berpendapat menggunakan lahan dan sumber daya yang sama yang saat ini didedikasikan untuk memproduksi makanan yang tidak bergizi untuk menanam hasil yang bergizi dapat menjadi solusi yang sama-sama menguntungkan, meningkatkan kesehatan manusia dan menyelamatkan planet dari emisi berbahaya dan deforestasi akibat kerusakan produksi pangan saat ini.

“Dengan menggunakan lahan yang sama, kami dapat menghasilkan lebih banyak makanan nabati bagi manusia daripada makanan hewani,” jelas penulis lainnya sekaligus Kepala Kelompok Riset Manajemen Penggunaan Lahan PIK, Alexander Popp.

“Sederhananya: Jika lebih banyak orang makan lebih banyak daging, lebih sedikit makanan nabati untuk orang lain - ditambah kita membutuhkan lebih banyak lahan untuk produksi pangan yang dapat menyebabkan penebangan hutan. Dan emisi gas rumah kaca meningkat sebagai konsekuensi memelihara lebih banyak hewan,” ungkapnya.

Tingkat obesitas yang tinggi dan banyaknya orang yang kelebihan berat badan juga dianggap telah meningkatkan dan memperburuk beberapa penyakit kronis yang paling berat di dunia. Yakni penyakit jantung, diabetes, dan lainnya. Tak hanya itu, kelebihan berat badan juga menjadi faktor risiko utama COVID-19 menjadi parah atau fatal.

Seperti diketahui, sejak 1965, konsumsi global telah beralih ke makanan olahan tinggi, pertemuan berprotein tinggi, produk bergula, dan karbohidrat. Sementara itu, banyak populasi yang tidak mengonsumsi sayuran, makanan nabati dan utuh serta pati sehat.

Pergeseran ini berarti lebih banyak kalori kosong dan diet tinggi lemak yang tentunya menambah berat badan, tetapi tidak berbuat banyak untuk benar-benar memberi bahan bakar pada tubuh kita.

Inovasi dalam ilmu pangan telah membuat banyak makanan diproduksi, bukan ditanam. Metode pemrosesan ini lebih murah, lebih cepat, dan tidak terlalu rentan terhadap cuaca dan kondisi alam, menjadikannya dapat diandalkan, tetapi sebenarnya tidak lebih baik untuk kesehatan kita.

Akibatnya, 29 persen orang di dunia sudah kelebihan berat badan pada 2010, dan sembilan persen dianggap obesitas, dengan indeks massa tubuh (BMI) di atas 30. Amerika Serikat (AS) berada di depan kurva yang suram itu.

Antara 2009 dan 2010, 35,7 persen orang dewasa di AS sudah mengalami obesitas. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), jumlah itu telah meningkat menjadi 42,4 persen pada periode antara 2017 dan 2018.

Lalu di Inggris, sekitar 28 persen populasi di sana mengalami obesitas. Dan angka ini terus naik di kedua negara tersebut dan di sebagian besar dunia.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini