Jangan Lelah, Ajak Anak Selalu Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19

Agustina Wulandari , Okezone · Jum'at 04 Desember 2020 16:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 04 1 2321752 jangan-lelah-ajak-anak-selalu-patuhi-protokol-kesehatan-covid-19-8YFbF7M1lK.jpg Foto : Dok.Okezone

JAKARTA - Pandemi Covid-19 belum terkendali. Di tengah situasi ini, para orang tua didorong untuk terus-menerus mengedukasi anak-anaknya agar patuh dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Pandemi memang memaksa orang-orang melakukan sebagian aktivitasnya dari rumah. Pembatasan pertemuan selama hampir satu tahun ini membuat semua orang jenuh. Efeknya, tak sedikit warga yang memaksakan keluar rumah. Ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M), terbukti selama ini menjadi penyebab terjadi penularan virus Sars Cov-II tersebut.

Protokol kesehatan terhadap anak penting karena perhatian selama ini lebih difokuskan kepada orang-orang dewasa saja. Di saat pelonggaran, anak-anak kerap bermain dan wara-wiri di luar rumah. Tentu ini berisiko terjadi kontak dengan temannya dan penularan virus.

Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Niken Pratiwi menerangkan, penyebaran virus ini tidak memandang usia, jabatan, dan status sosial. Dari data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, tercatat ada 238 anak usia 6 sampai 17 tahun yang meninggal dunia lantaran korban korona.

Melihat realitas itu, penerapan 3M oleh anak-anak menjadi sangat penting. Dia menjelaskan, anak-anak harus diajarkan mengenai jaga jarak lebih dari 1 meter ketika bertemu dengan orang dan mencuci tangan sehabis bermain. Kalau perlu, mandi dan ganti pakaian.

“Sosialisasi 3M pada anak-anak penting karena meningkatkan kesadaran masyarakat. Setelah tumbuh kesadaran, akan ada kepedulian kepada pihak lain,” ujarnya, dalam diskusi daring dengan tema “Strategi Sosialisasi 3M untuk Anak”, kemarin.

Kebiasaan mencuci tangan sebenarnya sudah diajarkan di rumah dan sekolah jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia. Dengan demikian, saat ini intensitasnya harus ditingkatkan karena ada pandemi. Peningkatan itu antara lain pada sebelum dan setelah makan, sehabis main, serta setelah dari toilet. Niken menjelaskan, ekosistem pendidikan, yakni sekolah, orang tua, keluarga, dan masyarakat, bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi 3M kepada anak-anak.

Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menyatakan ada lima cara sosialisasi kepada anak, yakni komunikasi, teladan, cara yang menarik, konsisten, dan reward. Pandemi ini bisa menjadi anugerah bagi para orang tua karena selalu berada dekat dengan anaknya.

Di sisi lain, kondisi menjadi tantangan karena anak-anak akan mengajak bermain orang tuanya. Orang tua harus mengambil manfaat situasi dengan mengajak anak-anak berdiskusi dan komunikasi secara intens tentang Covid-19, bahaya, dan pencegahannya.

“Anak itu peniru ulung. Apalagi, anak usia dini, usia baru lahir hingga 8 tahun. Dia mendengar dan melakukan apa yang dilihatnya. Sebelum meminta menerapkan 3M, kita harus lebih dulu baru minta ke anak. Kita harus memberi contoh bagaimana menggunakan masker, cuci tangan yang teratur, dan menjaga jarak,” tuturnya.

Anak-anak itu tidak bisa dijejali dengan perintah. Maka, penyampaian informasi mengenai Covid-19 dan penerapan 3M harus dengan cara yang menarik. Tekniknya bisa berupa melalui video-video edukasi yang diproduksi pemerintah dan akademisi serta melalui buku cerita.

Uji Kesabaran

Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia Hindra Irawan Satari mengatakan, menghadapi pandemi ini seperti seseorang berlari maraton. Semua harus panjang napas, sabar, dan tidak boleh lengah. Indonesia harus memetik pelajaran dari China yang merupakan negara paling awal menjadi pusat persebaran virus. Saat ini China sudah tidak masuk dalam 10 besar dengan jumlah penderita Covid-19.

Namun, negara adidaya seperti Amerika Serikat, jumlah kasusnya kian tinggi. Di luar itu ada Brasil dan India. “China itu disiplin dan semua pihak berpartisipasi. Jangan mencelakakan teman-teman. Sekarang bukan eranya untuk berlibur. Stay at home paling aman untuk memutus transmisi,” ujarnya.

Sosialisasi penerapan protokol kesehatan, menurutnya, bisa menggunakan kearifan lokal. Metode ini akan jauh lebih diterima oleh masyarakat setempat. “Kita harus menggali budaya lokal sehingga masyarakat itu mengerti. Bukan membangkang. Ada keluarga yang kena, baru heboh. Kalau menyangkut pribadi, baru kita ngeh,” tuturnya.

Anak-anak, menurutnya, punya pertahanan yang lebih baik daripada orang tua umumnya. Namun, para orang tua tidak boleh menganggap sepele. Jika orang tua melihat ada gejala seperti flu, demam, batuk, dan sesak pada anak, sebaiknya segera membawa ke rumah sakit.

Hindra mengungkapkan, dalam kejadian luar biasa (KLB) seperti ini, anak-anak berpotensi mengalami dampak psikologi seumur hidup. Efek merugikan dari pandemi itu terjadi di seluruh dunia. Sebagian besar terjadi di lingkungan miskin dan kumuh. “Sebelum krisis, mereka sudah dalam keadaan yang tidak menguntungkan dan rawan,” ucapnya.

Dalam situasi seperti ini pencegahan itu lebih baik. Memang, ada orang yang hanya gejala ringan ketika terpapar Covid-19. Namun, banyak yang mengalami serangan dahsyat yang menyebabkan kematian. “Tanamkan hidup sehat. Kita harus menghentikan penyebaran virus terhadap orang lain,” ujarnya. (CM)

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini