Tim Mitigasi IDI: Tenaga Medis Tetap Terapkan 3M Saat Merawat Pasien Covid-19

Agustina Wulandari , Okezone · Sabtu 05 Desember 2020 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 05 1 2322252 tim-mitigasi-idi-tenaga-medis-tetap-terapkan-3m-saat-merawat-pasien-covid-19-w9jqJNcSZl.jpeg Foto : Dok.Tim Mitigasi IDI

JAKARTA - Hari ini Tim Mitigasi IDI mengumumkan pembaruan data tenaga medis yang wafat akibat Covid-19. Dari Maret - Desember ini, terdapat total 342 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid, yang terdiri dari 192 dokter dan 14 dokter gigi, dan 136 perawat.

Para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 101 dokter umum (4 guru besar), dan 89 dokter spesialis (7 guru besar), serta 2 residen yang keseluruhannya berasal dari 24 IDI Wilayah (provinsi) dan 85 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).

Berdasarkan data provinsi:

Jawa Timur 39 dokter, 2 dokter gigi, dan 36 perawat,

DKI Jakarta 31 dokter, 5 dokter gigi dan 21 perawat,

Sumatra Utara 24 dokter dan 3 perawat,

Jawa Barat 17 dokter, 3 dokter gigi, dan 18 perawat,

Jawa Tengah 17 dokter dan 21 perawat,

Sulawesi Selatan 7 dokter dan 3 perawat,

Banten 7 dokter dan 2 perawat,

Bali 6 dokter,

DI Aceh 6 dokter dan 2 perawat, Kalimantan Timur 5 dokter dan 3 perawat,

Riau 5 dokter,

DI Yogyakarta 5 dokter dan 2 perawat,

Kalimantan Selatan 4 dokter, 1 dokter gigi, dan 6 perawat,

Sumatra Selatan 4 dokter dan 5 perawat,

Kepulauan Riau 3 dokter dan 2 perawat,

Sulawesi Utara 3 dokter,

Nusa Tenggara Barat 2 dokter,

Sumatra Barat 1 dokter, 1 dokter gigi, dan 2 perawat,

Kalimantan Tengah 1 dokter dan 2 perawat,

Lampung 1 dokter dan 1 perawat,

Maluku Utara 1 dokter dan 1 perawat,

Bengkulu 1 dokter,

Sulawesi Tenggara 1 dokter dan 2 dokter gigi,

Papua Barat 1 dokter

Papua 2 perawat,

DPLN (Daerah Penugasan Luar Negeri) Kuwait 2 perawat,

Nusa Tenggara Timur 1 perawat,

Kalimantan Barat 1 perawat,

Dikatakan oleh Dr Eka Mulyana, SpOT(K),MKes,SH,MHKes dari Divisi Advokasi dan Hubungan Eksternal Tim Mitigasi PB IDI, bahwa apapun informasi mengenai bahwa Covid-19 adalah hoaks atau hasil konspirasi, namun kenyataannya adalah virus ini benar-benar nyata dan telah memakan nyawa banyak orang dalam waktu yang cepat.

"Kami berharap apabila Anda termasuk orang yang tidak mempercayai adanya Covid-19 ini, namun janganlah mengorbankan keselamatan orang lain dengan ketidakpercayaan tersebut. Tingginya lonjakan pasien Covid-19 serta angka kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi peringatan kepada kita semua untuk tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan (3M). Dengan mengabaikan protokol kesehatan, maka Anda tidak hanya mengorbankan keselamatan diri sendiri namun juga keluarga dan orang terdekat termasuk orang di sekitar,” ujarnya dalam pernyataan tertulis kepada Okezone, Sabtu (5/12).

Ia menerangkan, pandemi ini akan berlalu dengan kerjasama seluruh pihak, termasuk masyarakat. Tim Mitigasi PB IDI secara khusus juga mengingatkan kepada para tenaga medis dan tenaga kesehatan untuk waspada dan tetap menjalankan SOP seperti dalam pedoman standar perlindungan dokter di saat melakukan pelayanan dan saat berada di keluarga dan komunitas.

Sementara itu, dr Weny Rinawati SpPK MARS, anggota Tim Pedoman dan Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI mengingatkan para tenaga kesehatan agar tidak menurunkan kualitas APD yang dikenakan.

"Saat ini standar level APD yang wajib dikenakan oleh para tenaga kesehatan adalah level tertinggi, sesuai dengan risiko tempat melakukan pelayanan. Kami juga berharap agar pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan juga menyediakan APD yang layak bagi para tenaga kesehatan. Sementara itu bagi para tenaga kesehatan yang berpraktek secara pribadi sebaiknya tetap menggunakan APD level sesuai potensi risiko dalam menangani pasien," papar dr Weny.

Harif Fadhilah, S.Kp, SH, M.Kep, MH selaku Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menjelaskan bahwa sekitar 75 persen perawat yang meninggal akibat Covid umumnya bertugas di kamar rawat inap. Kemungkinan perawat tertular dari pasien sebelum hasil swab mereka (pasien) keluar dari lab (laboratorium) atau Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Kami menyadari bahwa para tenaga kesehatan dari berbagai divisi sudah kewalahan menangani lonjakan pasien dan hasil swab yang harus diperiksa. Oleh karena itu, kami juga berharap dukungan pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kualitas perlengkapan pemeriksaan kesehatan sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih cepat untuk mengurangi angka penularan di fasilitas kesehatan, termasuk pemeriksaan rutin untuk para tenaga kesehatan,” tutur Hanif. (CM)

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini