Tujuan akhir dari program ini adalah untuk mengirim astronot dan membangun stasiun luar angkasa di bulan pada 2030 nanti. Chang’e 5 diharapkan bisa membawa kembali sampel batuan bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 40 tahun. Pesawat ruang angkasa tersebut diharapkan kembali ke bumi dalam beberapa hari mendatang.
Sebelumnya, misi tersebut dilakukan oleh misi Luna 24 Uni Soviet pada 1976 silam.
Meski banyak yang mengapresiasi kontribusi wanita atas keberhasilan pesawat luar angkasa Chang’e 5 yang mendarat di bulan, namun banyak yang mengatakan hambatan sosial terus membatasi kemampuan wanita dalam sains untuk mencapai level tertinggi.
“Jika Anda melihat semua wanita yang bekerja dan belajar di bidang sains dan teknik di China, jumlah totalnya mungkin sebanding dengan pria,’ terang Cai Zhen, 37, seorang Associate Professor dari Institute of Microbiology di Chinese Academy of Sciences.
“Tapi angka itu turun secara signifikan ketika Anda melihat level yang lebih tinggi dari bidang apa pun,” jelasnya.
Dia mengatakan harapan masyarakat bagi wanita untuk mengabdikan sebagian besar waktunya untuk keluarga adalah salah satu batasan terbesar yang dihadapi wanita yang ingin berkarier.
Cai diketahui memiliki dua anak dan bekerja sebagai peneliti mikrobiologi dalam menggunakan kembali karbon dioksida.
Dia mengatakan sangat menantang untuk menyeimbangkan tujuan karir yang ambisius dan keluarganya. “Saya akan melewatkan istirahat minum atau istirahat apa pun ketika saya sedang bekerja karena saya tahu saya harus sangat efisien selama sembilan jam itu,” terangnya.
Sementara itu, meningkatnya representasi perempuan dalam sains China sebagian besar didorong oleh meningkatnya jumlah perempuan yang mempelajari sains. Wan mengatakan siswa perempuan di sekolahnya telah tumbuh setidaknya 10% dalam lima tahun terakhir. Di beberapa kelas, jumlah siswa laki-laki dan perempuan yang belajar hampir sama.
“Tapi keterwakilan di sekolah tidak sama dengan keterwakilan di tempat kerja,” ujarnya.
“Jika wanita yang mempelajari sains tidak bisa mendapatkan tawaran pekerjaan yang sama dengan pria, apakah kita benar-benar melihat perubahan sosial yang mendasar?,” terangnya.
Di seluruh dunia, banyak ilmuwan wanita yang menerobos hambatan dan membuktikan dirinya bisa. Misalkan saja, Jennifer Doudna, seorang ahli biokimia Amerika yang menemukan CRISPR, teknologi pengeditan gen. Dia dianugerahi hadiah Nobel di bidang Kimia tahun ini.
Lalu Kiara Nirghin, seorang siswa berusia 20 tahun dari Afrika Selatan, yang berhasul menemukan struktur molekul khusus yang mampu menampung banyak air dan dapat digunakan di daerah yang dilanda kekeringan untuk menghemat air. Dia menjadi pemenang Google Science Fair 2016.
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.