Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tiga Wanita Perkasa di Balik Program Eksplorasi Bulan dengan Pesawat Luar Angkasa

Susi Susanti , Jurnalis-Selasa, 08 Desember 2020 |12:49 WIB
Tiga Wanita Perkasa di Balik Program Eksplorasi Bulan dengan Pesawat Luar Angkasa
Wanita perkasa China (foto: Weibo)
A
A
A

CHINA - Tiga hari setelah China berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasa Chang’e 5 ke bulan, tiga wanita yang berperan penting dalam proses pendarat ikut menarik perhatian.

Kehadiran ketiganya disebut-sebut sama dengan film Hollywood “Hidden Figures” pada 2006. Film ini menampilkan tiga ahli matematika dan insinyur wanita Afrika-Amerika yang bekerja untuk The National Aeronautics and Space Administration (NASA) pada era 1960-an.

Di kehidupan nyata di China, salah satu wanita, Zhou Chengyu, komandan sistem konektor roket berusia 24 tahun dalam program eksplorasi bulan, langsung menjadi nama yang paling banyak dicari di akun Weibo yang mirip Twitter.

“Semua orang penasaran dengan Zhou karena dia adalah wanita yang sangat muda,” kata Wan Chaoran, seorang kandidat doktor di bidang teknik kimia di Universitas Pertambangan dan Teknologi China.

Apalagi, di China tidak biasa bagi seseorang seperti Zhou untuk memegang posisi penting di program eksplorasi luar angkasa paling terkenal.

“Laporan itu juga menunjukkan tidak adanya wanita yang diakui dalam laporan China sebelumnya. Saya berharap suatu saat media tidak perlu lagi memuat laporan khusus tentang ilmuwan perempuan. Kita semua manusia, melakukan pekerjaan yang sama,” tambahnya, dikutip Inkstone News.

Selain Zhou, ada dua wanita lain. Yakni Cui Yihan, yang mengelola peralatan perangkat lunak peluncuran roket, dan Sun Zhenlian, sebagai Direktur sistem pendukung peluncuran roket.

Cui baru saja lulus dari Universitas Sains dan Teknologi China di provinsi timur Anhui. Sedangkan Sun adalah veteran roket sistem peluncuran Long-March China. Pada tahun lalu, Sun menjadi topik berita ketika dia terlihat menangis kegirangan setelah roket China Long-March 3 berhasil diluncurkan.

Seperti diketahui, pesawat ruang angkasa Chang’e 5 adalah fase kelima dari Program Eksplorasi Bulan China, yang dimulai pada bulan Maret 2004. lalu.

Tujuan akhir dari program ini adalah untuk mengirim astronot dan membangun stasiun luar angkasa di bulan pada 2030 nanti. Chang’e 5 diharapkan bisa membawa kembali sampel batuan bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 40 tahun. Pesawat ruang angkasa tersebut diharapkan kembali ke bumi dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, misi tersebut dilakukan oleh misi Luna 24 Uni Soviet pada 1976 silam.

Meski banyak yang mengapresiasi kontribusi wanita atas keberhasilan pesawat luar angkasa Chang’e 5 yang mendarat di bulan, namun banyak yang mengatakan hambatan sosial terus membatasi kemampuan wanita dalam sains untuk mencapai level tertinggi.

“Jika Anda melihat semua wanita yang bekerja dan belajar di bidang sains dan teknik di China, jumlah totalnya mungkin sebanding dengan pria,’ terang Cai Zhen, 37, seorang Associate Professor dari Institute of Microbiology di Chinese Academy of Sciences.

“Tapi angka itu turun secara signifikan ketika Anda melihat level yang lebih tinggi dari bidang apa pun,” jelasnya.

Dia mengatakan harapan masyarakat bagi wanita untuk mengabdikan sebagian besar waktunya untuk keluarga adalah salah satu batasan terbesar yang dihadapi wanita yang ingin berkarier.

Cai diketahui memiliki dua anak dan bekerja sebagai peneliti mikrobiologi dalam menggunakan kembali karbon dioksida.

Dia mengatakan sangat menantang untuk menyeimbangkan tujuan karir yang ambisius dan keluarganya. “Saya akan melewatkan istirahat minum atau istirahat apa pun ketika saya sedang bekerja karena saya tahu saya harus sangat efisien selama sembilan jam itu,” terangnya.

Sementara itu, meningkatnya representasi perempuan dalam sains China sebagian besar didorong oleh meningkatnya jumlah perempuan yang mempelajari sains. Wan mengatakan siswa perempuan di sekolahnya telah tumbuh setidaknya 10% dalam lima tahun terakhir. Di beberapa kelas, jumlah siswa laki-laki dan perempuan yang belajar hampir sama.

“Tapi keterwakilan di sekolah tidak sama dengan keterwakilan di tempat kerja,” ujarnya.

“Jika wanita yang mempelajari sains tidak bisa mendapatkan tawaran pekerjaan yang sama dengan pria, apakah kita benar-benar melihat perubahan sosial yang mendasar?,” terangnya.

Di seluruh dunia, banyak ilmuwan wanita yang menerobos hambatan dan membuktikan dirinya bisa. Misalkan saja, Jennifer Doudna, seorang ahli biokimia Amerika yang menemukan CRISPR, teknologi pengeditan gen. Dia dianugerahi hadiah Nobel di bidang Kimia tahun ini.

Lalu Kiara Nirghin, seorang siswa berusia 20 tahun dari Afrika Selatan, yang berhasul menemukan struktur molekul khusus yang mampu menampung banyak air dan dapat digunakan di daerah yang dilanda kekeringan untuk menghemat air. Dia menjadi pemenang Google Science Fair 2016.

(Amril Amarullah (Okezone))

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement