JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta melalui Perumda Pasar Jaya memastikan stok pangan aman saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Manager Umum dan Humas Perumda Pasar Jaya, Gatra Vaganza mengatakan, pihaknya juga mengantisipasi sejumlah komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan lantaran tingginya permintaan warga saat libur Nataru.
"Setiap menjelang hari besar keagamaan dan akhir tahun, secara umum kebutuhan pangan di masyarakat mengalami peningkatan. Sehingga, perlu dilakukan antisipasi penyediaan sejumlah komoditi yang dinilai rentan mengalami kenaikan harga," kata Gatra dalam keterangannya, Senin (28/12/2020).
Dia berharap, tak ada gejolak harga pangan di pasar tradisional saat libur Nataru. Selain itu, perusahaan plat merah DKI itu juga menyiapkan kebutuhan di seluruh gerai pangan yang dikelola oleh Pasar Jaya.
Pasar Jaya membangun sejumlah mesin CAS di pasar-pasar yang ada di Jakarta untuk mengantisipasi kenaikan harga daging. Diharapkan mesin tersebut bisa menyimpan lebih banyak stok daging.
Sebanyak 4 Jakgrosir sebagai induk pusat Pasar Jaya mendistribusikaj pangan di Jakarta. Jakgrosir tersebut di Pasar Induk Kramat Jati, Kedoya, Walang Baru dan satu di Pulau Seribu.
Menurut Gatra, kebutuhan pangan daging beku juga distok dari awal dan disimpan dengan cold storage lantaran daging merupakan komoditi yang cenderung mengalami lonjakan harga setiap Nataru.
"Keberadaan Jakgrosir didukung oleh gerai retail di bawahnya sebagai tempat penyaluran komoditi pangan tersebut. Rencananya menyusul pembangunan Jakgrosir di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan," tuturnya.
Gatra menambahkan, Pasar Jaya bekerjasama dengan BUMD pangan lainnya dan juga Bank Indonesia sebagai ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan skema penangganan pangan agar harga tidak melambung tinggi.
Berdasarkan data dari BPS DKI Jakarta Selama Januari-Desember tahun 2019 inflasi di DKI Jakarta mencapai 3,23 persen, lebih rendah dari inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,27 persen.
Dari pendataan yang dilakukan oleh Bappeda DKI sepanjang tahun 2020, laju inflasi DKI Jakarta dari Januari-September 2020 mencapai 1,05% dan pada bulan September 2020 terjadi inflasi sebesar 0,02% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) semula 105,37 menjadi 105,39.
"Kondisi ini karena adanya kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan harga terbesar, dan memberikan dampak inflasi di DKI Jakarta, yaitu kelompok pendidikan dengan nilai inflasi sebesar 1,88%," tuturnya.
(Sazili Mustofa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.