Namun mereka sebelumnya ditahan di kamp Rivesaltes, sebuah fasilitas militer di Prancis selatan yang digunakan untuk menampung warga sipil, sebelum ditutup pada tahun 1942.
Catatan menunjukkan orang tua Eric kembali ke Austria setelah perang tetapi ia pindah ke Lyon pada tahun 1950 untuk belajar ilmu farmasi.
Di sanalah ia bertemu, menikah dan tinggal bersama istrinya. Menurut laporan dari daerah setempat, pasangan itu tidak memiliki anak dan Eric tetap menduda setelah istrinya meninggal, sampai ia sendiri meninggal pada 25 Desember.
Walikota Jean-Michel Eyraud mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa warisan dari Eric akan digunakan untuk mendanai pendidikan dan berbagai program untuk anak-anak muda.
Le Chambon-sur-Lignon hanya berpenduduk sekitar 2.500 orang tetapi memiliki reputasi sebagai tempat perlindungan bagi mereka yang berasal dari kaum Huguenot Protestan Prancis yang melarikan diri dari persekusi agama selama abad ke-17.
Selama Perang Dunia II, seorang pendeta dan istrinya di wilayah itu memimpin seruan untuk melindungi pengungsi Yahudi dari pendudukan Nazi dan kelompok pendukungnya Prancis Vichy.
Kabar menyebar dari mulut ke mulut melalui kelompok-kelompok hak asasi manusia dan desa tersebut menjadi pusat gerakan perlawanan. Penduduk desa itu biasa menampung dan menyembunyikan mereka yang melarikan diri.
Le Chambon-sur-Lignon kemudian diakui oleh Israel atas usaha perlindungan luar biasa ini.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.