Kudeta Militer Myanmar, Twitter dan Instagram Diblokir

Susi Susanti, Koran SI · Sabtu 06 Februari 2021 10:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 06 18 2357518 kudeta-militer-myanmar-twitter-dan-instagram-diblokir-Q7whLcpg20.jpg Pemimpin kudeta militer Myanmar blokir Twitter dan Instagram (Foto: BBC)

YANGON – Setelah Facebook, Twitter dan Instagram juga di blokir menyusul kudeta militer yang terjadi di Myanmar pada awal Februari lalu.

Telenor, salah satu penyedia internet utama negara itu, mengkonfirmasi telah diperintahkan untuk menolak akses ke kedua situs tersebut sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Sebelumnya, para pemimpin kudeta memblokir Facebook pada hari Kamis (4/2) demi "stabilitas".

Banyak warga Myanmar menyaksikan kudeta 1 Februari terungkap secara real time di Facebook, yang merupakan sumber informasi dan berita utama negara itu. Tetapi tiga hari kemudian, penyedia internet diperintahkan untuk memblokir platform tersebut karena alasan stabilitas.

Menyusul larangan tersebut, ribuan pengguna aktif di Twitter dan Instagram menggunakan tagar untuk menyatakan penentangan mereka terhadap pengambilalihan tersebut. Pada pukul 22:00 waktu setempat (15:30 GMT) pada hari Jumat, akses ke platform tersebut juga telah ditolak.

(Baca juga: Hong Kong Terapkan Aturan Kemanan Baru di Sekolah, Tidak Ada Ruang untuk Debat atau Kompromi)

Tidak ada kata resmi dari para pemimpin kudeta tetapi kantor berita AFP mengatakan telah melihat dokumen kementerian yang belum diverifikasi yang mengatakan dua situs media sosial itu digunakan untuk "menyebabkan kesalahpahaman di antara publik".

Penyedia telekomunikasi Norwegia, Telenor, menyatakan keprihatinan yang besar atas tindakan tersebut dan mengatakan telah menantang kebutuhan dan proporsionalitas arahan tersebut dan menyoroti kontradiksi arahan tersebut dengan hukum hak asasi manusia internasional.

Seorang juru bicara Twitter mengatakan hal itu telah merusak "percakapan publik dan hak orang untuk bersuara," lapor Reuters.

Perusahaan induk Instagram, Facebook meminta pihak berwenang Myanmar untuk memulihkan konektivitas sehingga orang dapat berkomunikasi dengan keluarga dan teman serta mengakses informasi penting.

(Baca juga: Kejam, Wanita Sekretaris Kamp Nazi Ini Dituduh Terlibat dalam 10.000 Pembunuhan

Sementara itu, hingga saat ini, Suu Kyi dikabarkan sedang menjalani tahanan rumah. Dokumen polisi menunjukkan dia dituduh mengimpor dan menggunakan peralatan komunikasi secara ilegal - walkie-talkie - di rumahnya di Nay Pyi Taw.

Sebelumnya pada Jumat (5/2), guru dan mahasiswa universitas berkumpul di Yangon untuk memberikan dukungan bagi pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi, dan anggota senior lainnya dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini