Varian Baru Covid-19 Inggris Diprediksi akan Melanda Seluruh Dunia

Agregasi VOA, · Jum'at 12 Februari 2021 05:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 12 18 2360817 varian-baru-covid-19-inggris-diprediksi-akan-melanda-seluruh-dunia-3Jx6dW11EJ.jpg Peneliti memperkirakan Covid-19 varian Inggris akan melanda seluruh dunia (Foto: Reuters)

 INGGRIS - Seorang ilmuwan asal Inggris mengatakan varian virus Covid-19 baru yang pertama kali ditemukan di negara itu akhir tahun lalu diperkirakan akan melanda seluruh dunia.

Kepala Konsorsium Covid-19 Genomics Inggris, Sharon Peacock, mengemukakan prediksi tersebut hari Rabu (11/2) dalam wawancara dengan BBC.

Konsorsium Covid-19 Genomics Inggris melacak mutasi genetika virus corona. Peacock mengatakan vaksin-vaksin yang baru dikembangkan efektif terhadap mutasi sekarang ini, tetapi ia memperingatkan para ilmuwan akan melacak mutasi baru sedikitnya selama dekade mendatang hingga virus “bermutasi sendiri menjadi jenis yang ganas.”

Suatu penelitian baru menunjukkan steroid hirup yang biasa digunakan untuk mengobati gejala asma tampaknya akan mengurangi kebutuhan rawat inap seseorang yang terinfeksi Covid-19.

Para ilmuwan di Oxford University, Inggris, melakukan penelitian selama satu bulan terhadap 146 pasien dengan gejala awal virus corona. Separuhnya diberi obat hirup yang mengandung budesonide, sementara selebihnya menerima perawatan biasa.

(Baca juga: Aktivis Hak Perempuan Arab Saudi Dibebaskan dari Penjara)

Para ilmuwan mendapati mayoritas pasien yang diberi budesonide tidak hanya terhindar dari rawat inap, tetapi juga pulih lebih cepat dan memiliki lebih sedikit gejala yang tertinggal.

Penelitian yang belum mendapat penelaahan sejawat itu diluncurkan setelah para peneliti mendapat bahwa pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), secara signifikan kurang terwakili di antara pasien COVID-19 yang dirawat inap pada hari-hari awal pandemi.

Seperti diketahui, varian baru yang lebih mudah menular ini pertama kali dideteksi di Kent, Inggris Selatan, pada September tahun lalu. Sejak sejak itu telah diidentifikasi di lebih dari 50 negara, termasuk Amerika Serikat (AS).

(Baca juga: Etnis Minoritas Myanmar Bergabung dalam Aksi Tentang Kudeta Militer)

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-Anak (UNICEF) mengimbau peningkatan produksi vaksin Covid-19 dan pendistribusian yang adil, seraya memperingatkan peluncuran vaksin global sangat tidak merata.

“Dari 128 juta dosis vaksin yang diberikan sejauh ini, lebih dari tiga perempat dari vaksinasi itu berlangsung di hanya 10 negara yang meliputi 60 persen PDB global,” kata Direktur Jedneral (Dirjen) WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dan Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam pernyataan bersama hari Rabu.

“Per hari ini, hampir 130 negara, dengan 2,5 miliar warga, belum menyuntikkan satu dosis pun,” tambahnya.

Jika ini berlanjut, mereka memperingatkan ini “akan menimbulkan korban jiwa dan mata pencaharian,” dan menciptakan kondisi-kondisi bagi virus untuk bermutasi dan menjadi resisten terhadap vaksin. Pemulihan ekonomi global juga akan melamban.

Para pejabat mendesak pemerintah negara-negara agar melihat keluar negara mereka dan menerapkan strategi vaksin yang akan mengakhiri pandemi serta membatasi kemunculan varian baru.

Mereka merekomendasikan memvaksinasi terlebih dulu petugas layanan kesehatan garis depan dan orang-orang yang rentan di seluruh dunia. Pimpinan WHO dan UNICEF dan itu juga mengimbau para produsen vaksin agar mengalokasikan pasokan terbatas mereka secara adil dan melakukan alih teknologi ke produsen-produsen lain yang dapat membantu meningkatkan pasokan global.

“Covid-19 telah menunjukkan bahwa nasib kita saling terkait,” terang mereka.

“Menang atau kalah, kita akan melakukannya bersama-sama,” tambah mereka.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini