"Cari peti, tunggu dua jam, tidak ada peti," kata Amin mengenang masa itu.
Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya ia memutuskan untuk membeli peti dan segera mengirim jenazah. "Saya marah dan sedih karena dua keluarga dalam sebulan meninggal," kata Amin.
Sehari kemudian, pihak covid center menelponnya, dan mengatakan pihaknya meminta maaf karena kehabisan peti jenazah. Dari sini, Amin kemudian mulai mendapat permintaan untuk membuat peti jenazah.
"Saya pengusaha furniture sudah 25 tahun. Saya mengerti bagaimana membuat peti yang lebih efisien, dan lebih cepat dengan mesin yang kita ada. Saya sedih sekali, saya tidak senang melihat masyarakat Indonesia begitu banyak korban".
"Saya tidak suka cita dalam kematian orang ini dan bisnis ini laris. Karena kita pabrik furniture, kita income dari furniture, ini adalah buka line, buka produksi baru untuk membantu," kata Amin.
Kematian nomor 1 di Asia Tenggara
Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) per 15 Februari 2021, angka kematian yang dipicu Covid-19 di Indonesia menempati peringkat satu di Asia Tenggara. Persentase kematian dari total kasus Covid-19 mencapai 2,72%. Kematian kumulatif selama pandemi sebanyak 32.936 dari total 1.210.703 kasus positif Covid-19.
Jumlah kematian yang dipicu Covid-19 ini berada di atas Myanmar, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam dan Bangladesh.
Sementara di kawasan Asia, jumlah kematian yang dipicu Covid-19 Indonesia menempati posisi ke-5 di bawah Yaman, Afghanistan, Iran, dan China.
Pemerintah Indonesia telah melakukan serangkaian kebijakan. Terakhir adalah penetapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang telah diperpanjang dua pekan, dan berakhir 8 Februari 2021.
PPKM skala mikro
Ketua bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 pusat, Alexander Kaliaga Ginting mengatakan mulai 9 Februari 2021, pemerintah menerapkan kebijakan PPKM skala mikro. Hal ini dikarenakan penularan virus sudah berada pada kluster keluarga.