CEO YouTube: Akun Trump Dipulihkan Jika Risiko Kekerasan Turun

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 05 Maret 2021 13:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 18 2372854 ceo-youtube-akun-trump-dipulihkan-jika-risiko-kekerasan-turun-SKpVVFvKji.jpg Akun YouTube mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diblokir (Foto: CNN)

WASHINGTON - Akun YouTube mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan dipulihkan sesuai dengan kebijakan platform saat ini.

CEO YouTube Susan Wojcicki mengatakan akun Trump akan dipulihkan hanya jika YouTube yakin jika risiko kekerasan telah surut.

Hal ini diungkapkan Wojcicki pada acara yang diselenggarakan oleh Dewan Atlantik. Dia mengatakan YouTube akan mengandalkan berbagai indikator untuk menilai tingkat kekerasan, termasuk pernyataan pejabat pemerintah, tingkat kesiapan penegakan hukum, dan retorika kekerasan apa pun yang dapat diamati YouTube di platformnya sendiri.

Dia menjelaskan sulit untuk mengatakan kapan akun Trump dapat dipulihkan. Namun dia menegaskan akun Trump akan terus ditangguhkan untuk saat ini mengingat kekhawatiran yang sedang berlangsung minggu ini tentang potensi kekerasan baru yang menargetkan Gedung Capitol AS.

(Baca juga: Pakai Mantel dan Kerudung, Bintang Film Dewasa Tuai Kemarahan Usai Tampil di Video Musik Iran)

Seperti diketahui, para pejabat berada dalam siaga tinggi menyusul peringatan dari Biro Investigasi Federal (FBI), Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan Kepolisian Capitol AS tentang kemungkinan rencana ekstremis untuk menyerang kompleks Capitol pada 4 Maret.

"Sekarang cukup jelas, bahwa masih ada risiko kekerasan yang meningkat,” ujarnya.

Wojcicki menambahkan meskipun akun Trump pada akhirnya akan dipulihkan, namun akun itu masih bisa diblokir secara permanen jika mendapat dua teguran lagi berdasarkan aturan YouTube dalam waktu 90 hari.

Akun Trump untuk sementara ditangguhkan sejak 12 Januari lalu karena dianggap melanggar kebijakan YouTube terhadap hasutan kekerasan. Kala itu, YouTube mengatakan pembatasan akan berlangsung setidaknya seminggu.

(Baca juga: Wow, Sampah Makanan yang Dibuang Capai 900 Juta Ton, 690 Juta Orang Kelaparan)

Platform lain, termasuk Twitter dan Facebook, juga melarang atau menangguhkan akun Trump setelah kerusuhan di Capitol AS pada Januari lalu. Facebook (FB) juga telah meminta Dewan Pengawas untuk mempertimbangkan apakah akan mengaktifkan kembali akun tersebut.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini