WHO Minta Uji Klinis Vaksin Sinovac Diperpanjang 6 Bulan ke Depan

Arif Budianto, Koran SI · Jum'at 05 Maret 2021 13:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 525 2372877 who-minta-uji-klinis-vaksin-sinovac-diperpanjang-6-bulan-ke-depan-NsNPhBDQrn.jpg Vaksin Sinovac (Foto : Istimewa)

BANDUNG - Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) mengatakan pihaknya memperpanjang uji klinis vaksin Sinovac di Bandung selama enam bulan ke depan sesuai dengan permintaan Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO).

"Informasi yang kami terima dari Bio Farma, WHO minta uji klinis vaksin Sinovac di Bandung agar diperpanjang enam bulan. Kalau kami siap siap saja, tinggal perlu perpanjangan kontrak baru," kata Ketua Tim Uji Klinis tahap 3 vaksin Sinovac Kusnandi Rusmil kepada MPI, Jumat (5/3/2021).

Menurut Kusnandi, permintaan tersebut bukan karena adanya kesalahan uji klinis atau persoalan lainnya, tetapi untuk mengetahui jangka waktu kekebalan vaksin Sinovac di dalam tubuh manusia. "Jadi untuk melihat kapan vaksinasi Sinovac ini mesti diulang," kelas dia.

Menurut dia, seyogyanya uji klinis vaksin Sinovac terhadap 1.620 relawan selesai sekitar Maret hingga April 2021. Hal itu sesuai jadwal awal, dilakukan dua kali penyuntikan kepada relawan. Setelah penyuntikan, dilakukan pemantauan selama tiga bulan.

"Nanti relawan akan disuntik lagi, tapi sifatnya tidak memaksa. Kalau mau ikut lagi silakan, enggak juga tidak apa-apa," katanya.

Dengan diperpanjangnya uji klinis fase 3 ini, maka nantinya akan diketahui kekuatan antibodi vaksin dari virus Covid-19. Karena, bila dilihat berdasarkan periode tiga bulanan, antibodi vaksin sinovac masih sangat tinggi, lebih dari 90%.

Baca Juga : Antisipasi Polri Cegah Vaksin Covid-19 Palsu Masuk ke Indonesia

Dia menyebutkan, jangka waktu kemampuan vaksin membentuk antibodi penting diketahui untuk merencanakan program vaksinasi. Seperti halnya vaksinasi divteri, dilakukan selama empat kali serta vaksin influenza lainnya yang daya tahannya tidak lebih dari dua tahun.

"Ini kan vaksin yang dihasilkan dari virus yang dimatikan, kemampuannya tidak mungkin seumur hidup. Maksimal satu tahun, dua tahun sudah tidak terlalu bagus lagi. Nah ini yang ingin kami ketahui," imbuh dia.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini