Share

Badan Regulator Obat Eropa: Vaksin Covid-19 AstraZeneca Aman dan Efektif

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 19 Maret 2021 06:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 19 18 2380298 badan-regulator-obat-eropa-vaksin-covid-19-astrazeneca-aman-dan-efektif-BsSl3RQqx8.jpg Vaksin AstraZeneca (Foto: Reuters)

EROPA – Badan regulator obat di Eropa (EMA) menyimpulkan vaksin Covid-19 yang diproduksi Oxford-AstraZeneca "aman dan efektif".

EMA melakukan investigasi setelah 13 negara anggota Uni Eropa menghentikan sementara vaksinasi Covid-19 setelah muncul kekhawatiran vaksin AstraZeneca "bisa menyebabkan penggumpalan darah".

Pada Kamis (18/03), EMA menyatakan "suntikan vaksin tidak menyebabkan peningkatan risiko penggumpalan darah".

Direktur eksekutif EMA, Emer Cooke, dalam keterangan pers mengatakan, vaksin AstraZeneca aman dan efektif.

"Manfaatnya dalam melindungi warga dari Covid-19 terkait dengan potensi kematian dan perawatan di rumah sakit (jika terkena Covid-19) lebih besar daririsiko yang mungkin ditimbulkan," ujar Cooke.

EMA mengatakan tetap "sangat yakin" atas manfaat vaksin Oxford-AstraZeneca melebihi risiko yang ditimbulkan.

(Baca juga: Penembakan Spa yang Tewaskan 8 Orang, Pelaku Hadapi Dakwaan Berlapis)

Regulator itu kembali menekankan "tak ada indikasi" vaksin itu menyebabkan penggumpalan darah, setelah sejumlah negara besar Eropa menunda distribusi.

Cooke, mengatakan badan itu tetap pada keputusan mereka menyepakati vaksin AstraZeneca. Adapun penyelidikan terkait kasus penggumpalan darah atas 37 orang masih berlangsung.

Terkait hal ini, Italia, Spanyol, dan Jerman mengumumkan mereka akan melanjutkan kembali vaksinasi.

Sedangkan Swedia akan memutuskan "dalam beberapa hari ke depan".

Sebelumnya, negara-negara di Eropa mencari klarifikasi lebih lanjut dari keamanan vaksin Covid-19 buatan Oxford-AstraZeneca, di tengah kritik atas keputusan mereka menangguhkan pemberian vaksin ini.

(Baca juga: Sidang Tersangka Penembakan Spa Pijat yang Tewaskan 8 Orang, Dibatalkan)

Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia mengatakan mereka masih menunggu hasil investigasi dari regulator obat dan memutuskan menghentikan pemakaian vaksin AstraZeneca.

Namun, anggota Uni Eropa lainnya, termasuk Polandia dan Belgia, tetap melanjutkan pemberian vaksin AstraZeneca. Sebelumnya, pada Selasa (16/03) EMA mengatakan "sangat yakin" akan nilai manfaat dari AstraZeneca.

Direktur EMA, Emer Cooke, menunjukkan bahwa kasus pembekuan darah yang disorot sejumlah negara merupakan jumlah yang umum dalam sebuah populasi.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

"Saya ingin menekankan saat ini, tidak ada indikasi bahwa vaksin menyebabkan kondisi seperti itu," katanya.

Dalam pernyataan bersama setelah itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Italia, Mario Draghi, mengatakan bahwa tanggapan dari EMA "membesarkan hati".

Para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadakan pertemuan pada Selasa (16/3) dan seorang juru bicara menekankan bahwa "tidak ada bukti" kasus pembekuan darah terkait dengan vaksin.

WHO mendorong negara-negara untuk tidak menghentikan vaksinasi.

Langkah penangguhan vaksin ini muncul di saat Eropa berjuang untuk mengendalikan kasus Covid-19 yang terus melonjak.

Di Inggris, lebih dari 11 juta orang telah menerima satu dosis vaksin AstraZeneca, dan tidak ada tanda-tanda kematian atau pembekuan darah.

Diketahui, sebanyak 13 negara Eropa menghentikan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca.

Denmark menjadi yang pertama, diikuti Norwegia dan Islandia. Langkah ini kemudian diambil juga oleh Jerman, Prancis, Siprus, Spanyol, Latvia, dan Swedia.

Pada Senin (15/3), tiga negara besar Uni Eropa - Jerman, Prancis dan Italia - mengatakan mereka masih menunggu hasil investigasi dari EMA sebelum memutuskan apakah akan tetap menggunakan vaksin tersebut.

Mereka mengatakan, mengambil keputusan tersebut sebagai "langkah pencegahan".

Seorang epidemiolog dari Jerman dan juru bicara kesehatan untuk partai sayap kiri-tengah Sosial Demokrat, mengatakan langkah penangguhan bisa dibenarkan, tapi juga bermakna politis.

"Saya bahkan sekarang akan divaksin AstraZeneca. Berdasarkan insiden yang kita tahu, vaksin jauh lebih lebih besar manfaatnya dibandingkan risikonya, khususnya pada kelompok manula," katanya kepada Radio Deutschlandfunk.

Seorang juru bicara dari Free Democrats, kelompok oposisi Jerman, mengatakan keputusan itu telah membatalkan seluruh distribusi vaksin di negara itu. Sementara, ahli kesehatan dari German Greens, Janosch Dahmen mendesak pihak berwenang untuk melanjutkan pemberian vaksin.

Kepala bagian Vaksinasi Polandia, Michal Dworczyk, mengatakan negara-negara yang menghentikan sementara penggunaan vaksin "menyerah pada kepanikan yang dibuat media yang menduga-duga adanya komplikasi."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini