Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Misteri Kemunculan Harimau Putih di Candi Mleri

Solichan Arif , Jurnalis-Jum'at, 19 Maret 2021 |05:49 WIB
Misteri Kemunculan Harimau Putih di Candi Mleri
KOmplek Candi Mleri (Foto: Sindonews/Solichan)
A
A
A

BLITAR - Aura mistis akan sangat terasa ketika memasuki halaman Candi Mleri, candi yang dipercaya menjadi tempat persemayaman salah satu Raja Singhasari, Wisnuwardhana. Sebuah relief bergambar harimau terpahat di salah satu bagian makam.

Harimau tersebut dipercaya oleh banyak orang sebagai perwujudan Macan Putih atau harimau berwarna putih. Beberapa peziarah, juga acap kali menceritakan kehadiran macan putih di area pemakaman tersebut.

Kehadiran harimau putih yang ditemui para peziarah tersebut, juga diakui juru pelihara candi Mleri, Ny Sunarni (61). Candi Mleri sendiri berada di Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Dari Kota Blitar, berjarak sekitar 15 km. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Gunung Pegat.

Puncak perbukitan setinggi 200-an meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut, diyakini sebagai pertapaan Dewi Kilisuci , putri sulung Prabu Airlangga, Raja Kahuripan. Mleri merupakan toponimi kuno Desa Bagelenan. Di masa kerajaan Kadiri, yakni pada kurun waktu 1091 saka atau 1169 masehi, Mleri berstatus sebagai desa perdikan atau desa merdeka pajak.

Mleri menjadi kawasan Mandala Karesian atau pusat pertapaan dan pendidikan Kaum Resi (1120 saka atau 1198 masehi). Pada tahun 1237 saka atau selama 185 tahun (1315-1500 masehi) di era Kerajaan Majapahit, Mleri menjadi tempat beribadah sekaligus tempat tinggal para resi. Prasasti Meleri (1091 saka) dan Prasasti Subashita (1120 saka) telah mengarsipkannya.

"Termasuk tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni dari Kerajaan Singasari (1200 masehi)," tambah Sunarni yang menjadi juru pelihara Candi Mleri sejak tahun 1988. Suasana kuno masih terasa. Batu batu candi, arca, tugu prasasti, lingga yoni, yang dikelilingi pepohonan besar, kemudian mata air, serta aroma kemenyan yang terbakar, memperkuat sisa sisa peninggalan desa kuno Mleri.

Terlihat sebatang pohon maja tua yang lagi berbuah. Tanaman yang mengilhami Raden Wijaya memberi nama Majapahit pada kerajaanya tersebut, tumbuh subur di sisi kanan pintu masuk candi Mleri. Sementara yang disebut pendharmaan atau penghormatan terhadap abu jenazah Raja Wisnuwardhana, bertempat di dalam bangunan cungkup yang bernama Kekunaan Mleri.

Baca Juga : Ada Harimau Putih di Makam Raja Singasari Candi Mleri

Saat masuk ruangan, Sunarni menunjuk sebuah makam yang berada di sisi kanan pintu masuk. Tampak kuburan kuno yang dibangun atas batu kuno. Posisinya membujur searah mata angin utara-selatan. Sekilas tidak berbeda dengan makam kuno yang banyak dijumpai di area pemakaman wali penyebar agama Islam. Selembar kain mori putih juga menyelubungi kedua nisannya.

Namun, Sunarni tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Ia hanya mengatakan, di makam itulah jenazah Raja Wisnuwardhana didharmakan. "Kalau makam yang sebelah kiri itu katanya istri selirnya," kata Sunarni menunjuk sebuah makam kuno lain di sisi kiri ruangan. Raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni merupakan putra Raja Anusapati, yakni anak Ken Dedes dengan akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement