Ada Harimau Putih di Makam Raja Singasari Candi Mleri

Solichan Arif, Koran SI · Senin 15 Maret 2021 06:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 519 2377746 ada-harimau-putih-di-makam-raja-singasari-candi-mleri-cgCVUzFzf3.jpg Makam raja di kawasan Candi Mleri (Foto : Sindonews)

BLITAR - Harimau putih itu tertangkap penglihatan seorang paranormal di komplek Candi Mleri, Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar, tempat persemayaman abu jenazah Raja Singasari Wisnuwardhana. Besarnya setara anak sapi. Posisinya duduk, bertumpu pada dua kaki belakang, seperti halnya pose harimau di banyak lukisan fabel. Hanya ekornya yang tidak berhenti bergerak, mengibasi lantai keramik ruangan.

Saat itu siang hari. Keduanya beradu pandang. Penyemedi itu terpukau dengan kedua mata sang harimau. Pupil itu ia rasakan menyorot tajam. Keberaniannya pun runtuh. Nyali lelaki asal Rejotangan, Kabupaten Tulungagung tersebut, mendadak ciut. Keringat dinginnya bercucuran. Khawatir membuat si macan putih kaget, perlahan ia beringsut meninggalkan ruangan.

"Di luar ruangan, orang Tulungagung itu tergopoh-gopoh menemui saya. Kejadian penampakan macan putih itu belum lama terjadi," tutur Ny Sunarni (61) juru pelihara Candi Mleri, di Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar kepada Sindonews.com, Minggu 14 Maret 2021.

Candi Mleri atau Waleri berada di Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat. Dari Kota Blitar sekitar 15 kilometer. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Gunung Pegat.

Yakni perbukitan setinggi 200 meter di atas permukaan laut, yang puncaknya diyakini sebagai pertapaan Dewi Kilisuci, putri sulung Prabu Airlangga, Raja Kahuripan. Mleri merupakan toponimi kuno Desa Bagelenan. Di masa kerajaan Kadiri, yakni pada kurun waktu 1091 saka atau 1169 masehi, Mleri berstatus sebagai desa perdikan atau desa merdeka pajak.

Mleri menjadi kawasan Mandala Karesian atau pusat pertapaan dan pendidikan Kaum Resi (1120 saka atau 1198 masehi). Pada tahun 1237 saka atau selama 185 tahun (1315-1500 masehi) di era Kerajaan Majapahit, Mleri menjadi tempat beribadah sekaligus tempat tinggal para resi. Prasasti Meleri (1091 saka) dan Prasasti Subashita (1120 saka) telah mengarsipkannya.

"Termasuk tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni dari Kerajaan Singasari (1200 masehi)," tambah Sunarni yang menjadi juru pelihara Candi Mleri sejak tahun 1988. Suasana kuno masih terasa. Batu batu candi, arca, tugu prasasti, lingga yoni, yang dikelilingi pepohonan besar, kemudian mata air, serta aroma kemenyan yang terbakar, memperkuat sisa sisa peninggalan desa kuno Mleri.

Candi Mleri (Foto : Sindonews)

Baca Juga : Kisah Ratu Kalinyamat Tapa Telanjang & Keramas Darah Aryo Penangsang

Terlihat sebatang pohon maja tua yang lagi berbuah. Tanaman yang mengilhami Raden Wijaya memberi nama Majapahit pada kerajaanya tersebut, tumbuh subur di sisi kanan pintu masuk candi Mleri. Sementara yang disebut pendharmaan atau penghormatan terhadap abu jenazah Raja Wisnuwardhana, bertempat di dalam bangunan cungkup yang bernama Kekunaan Mleri.

Saat masuk ruangan, Sunarni menunjuk sebuah makam yang berada di sisi kanan pintu masuk. Tampak kuburan kuno yang dibangun atas batu kuno. Posisinya membujur searah mata angin utara-selatan. Sekilas tidak berbeda dengan makam kuno yang banyak dijumpai di area pemakaman wali penyebar agama Islam. Selembar kain mori putih juga menyelubungi kedua nisannya.

Sayangnya, Sunarni tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Ia hanya mengatakan, di makam itulah jenazah Raja Wisnuwardhana didharmakan. "Kalau makam yang sebelah kiri itu katanya istri selirnya," kata Sunarni menunjuk sebuah makam kuno lain di sisi kiri ruangan. Raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni merupakan putra Raja Anusapati, yakni anak Ken Dedes dengan akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Dalam Pararaton disebutkan, berdirinya Kerajaan Singasari berawal dari gerakan kudeta Ken Arok yang menghabisi akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Selanjutnya dengan disokong kaum brahmana, Arok menggulingkan kekuasaan Raja Kadiri Prabu Kertajaya (1222). Arok lantas mendirikan Kerajaan Singasari dan memakai gelar Kertarajasa atau Amurwabhumi.

Arok terbunuh oleh keris Empu Gandring yang ditikamkan seorang abdi Pangalasan dari Desa Batil (1169 saka atau 1247 masehi). Ken Arok dicandikan di Kagenengan. Anusapati, putra tirinya, naik tahta menggantikan. Di masa itu, Kerajaan Singasari terbelah dua. Yakni Kerajaan Singasari yang diperintah Anusapati, dan Kerajaan Kadiri yang dirajai Mahesa Wonga Teleng. Yakni putra Ken Arok hasil perkawinannya dengan Ken Dedes.

Sementara Ranggawuni atau Wisnuwardhana dinobatkan sebagai Raja Singasari setelah menggulingkan Panji Tohjaya yang sebelumnya menghabisi Anusapati (1170 saka atau 1248 masehi). Panji Tohjaya merupakan anak hasil pernikahan Ken Arok dengan Ken Umang. Penikaman keris Empu Gandring dilakukan Tohjaya di saat Raja Anusapati asyik menyabung ayam.

Dari Wisnuwardhana yang menikah dengan permaisuri Waning Hyun kelak lahir Kertanegara, raja terakhir Singasari yang melahirkan konsep penyatuan kerajaan nusantara. Kertanegara juga mertua Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Di era Raja Wisnuwardhana, dibangun pelabuhan di kawasan Sungai Brantas. Lokasinya tidak jauh dari wilayah Mojokerto. Pelabuhan tersebut terkenal bernama Canggu. Wisnuwardhana mangkat pada 1192 Saka atau 1270 Masehi.

"Di Mleri Blitar dicandikan dengan lambang arca Siwa dan di Candi Jago Malang berlambang arca Budha," terang Sunarni yang merupakan juru pelihara Candi Mleri yang ketiga. Selain dua makam, yakni makam Raja Wisnuwardhana dan istri selirnya, di ruangan tersebut juga terlihat sejumlah benda purbakala. Diantaranya arca ganesha berukuran tidak begitu besar.

Kemudian panil relief Arjuna sedang khusyuk bertapa yang digoda sejumlah wanita. Ada juga panil relief seorang perempuan yang sedang menggendong anak kecil. Dulu, kata Sunarni, semua benda purbakala tersebut berada di luar ruangan. Letaknya berdekatan dengan arca Kala dan Lingga Yoni. Namun karena ada yang raib karena dicuri, semuanya lalu dipindah ke dalam ruangan Kekunaan Mleri, dan dikunci.

"Yang hilang miniatur candi. Yakni candi tapi kecil. Kejadiannya pada tahun 1998," kata Sunarni menjelaskan. Selain arca lingga yoni, kala dan tugu prasasti. Di pelataran komplek candi juga dijumpai enam kuburan kuno. Empat makam posisi berjajar di depan teras cungkup Mleri Kekunaan. Sedangkan dua makam lain masing masing berada di sisi kanan dan kiri cungkup.

Pada masing-masing nisan makam kuno, tumbuh subur tanaman berdaun lebar yang posisinya saling menumpuk. Sunarni menyebutnya pandan tumpuk. Tidak jauh dari enam makam kuno, juga tumbuh dua pohon sawo. Posisinya berada di kanan kiri pintu masuk Candi Mleri. Selain rindang, pohon sawo tua tersebut, juga tinggi menjulang.

Sunarni tidak bisa menceritakan siapa yang menghuni makam makam dengan batu nisan kuno tersebut. Ia hanya menyebut, mereka adalah para sahabat Mbah Mleri, yang salah satunya berasal dari Kerajaan Mataram. "Salah satu makam itu katanya berasal dari Mataram," kata Sunarni yang juga tidak tahu apakah keterangan Mataram tersebut berkaitan dengan adanya dua pohon sawo.

Sementara mengenai cerita penampakan harimau berbulu putih, Sunarni mengatakan hal itu benar adanya. Bukan hanya warga Rejotangan, Tulungagung yang pernah menyaksikan. Sejumlah orang yang melakukan ritualan pada Selasa Kliwon atau malam Jumat, juga pernah didatangi. "Disini yang sering terlihat adalah macan putih. Tapi sifatnya ghaib," kata Sunarni menjelaskan.

Sunarni memperlihatkan panil relief batu yang berada di teras cungkup Kekunaan Mleri. Tampak ukiran binatang yang sosoknya mengarah pada seekor harimau. Secara tersirat Sunarni ingin menyampaikan, bahwa secara metafisika, penampakan macan putih tersebut, ada benang merahnya dengan panil relief harimau yang ia perlihatkan.

"Dan itu tidak apa apa. Tidak menganggu. Hanya ingin mbagekke (berkenalan)," terang Sunarni.

Komplek Candi Mleri memiliki luas area kurang lebih 27 X 23 meter persegi. Upaya pelestarian Candi Mleri yang diikuti dengan membangun tembok pembatas berlangsung sejak tahun 1984. Meski tidak serame Candi Penataran, pengunjung Candi Mleri selalu ada.

Mereka, kata Sunarni, datang dari mana-mana. Bahkan tidak jarang para peneliti asing. Sunarni masih ingat, pada tahun 2016 silam, terdapat perwakilan dari 10 negara, yakni diantaranya Belanda dan Perancis, yang melakukan penelitian di Candi Mleri. Sebab candi Mleri konon candi tertua di Kabupaten Blitar.

"Pada tahun 2016 itu para peneliti disini selama 15 hari," kenang Sunarni yang hingga kini statusnya masih pegawai tidak tetap Trowulan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini