Ilmuwan Sebut Polusi Sebabkan Alat Kelamin Pria Semakin Mengecil

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 25 Maret 2021 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 25 18 2383915 ilmuwan-sebut-polusi-sebabkan-alat-kelamin-pria-semakin-mengecil-ItN7nEiQfZ.jpg Ilustrasi.

ALAT kelamin manusia, terutama pria menjadi semakin kecil dan  cacat karena tingkat polusi yang melonjak, demikian dikatakan seorang ilmuwan terkemuka.

Menurut penelitian baru, jumlah sperma yang lebih rendah dan disfungsi ereksi dapat dikaitkan dengan penggunaan bahan kimia industri dalam produk sehari-hari. Ini juga berdampak pada libido dengan 'penurunan keinginan' dari orang-orang yang memiliki tingkat polutan yang lebih tinggi.

Ahli epidemiologi lingkungan dan reproduksi terkemuka, Dr Shanna Swan, mengklaim bahwa bayi sekarang dilahirkan dengan penis yang lebih kecil.

BACA JUGA: Udara di Jakarta Buruk, Peralatan Elektronik Sumbang Polusi Lingkungan Juga Loh!

Dia mengatakan bahwa perubahan ukuran organ reproduksi dan jumlah sperma yang lebih rendah terkait dengan peningkatan 'ftalat'. Ini adalah bahan kimia yang biasa ditemukan di bagian pembuatan plastik, yang dapat mempengaruhi bagaimana hormon endokrin diproduksi.

Dr Swan mempelajari 'sindrom ftalat', yang ditemukan pada tikus yang janinnya terpapar bahan kimia tersebut. Dia menemukan bahwa mereka kemungkinan besar dilahirkan dengan alat kelamin yang menyusut.

Dalam buku barunya, “Count Down” Swan mengklaim bahwa bahan kimia tersebut dapat ditularkan melalui ASI dan dapat mempengaruhi bayi saat mereka berkembang di dalam rahim. Ini kemudian dapat menyebabkan sejumlah masalah serius, termasuk kecerdasan yang lebih rendah, kelahiran prematur, kadar testosteron yang lebih rendah, dan penis yang lebih kecil.

BACA JUGA: 20 Ribu Siswa Diliburkan Dampak Polusi Udara di Pasir Gudang Malaysia

Berbicara kepada The Intercept, Dr Swan juga mengklaim bahwa paparan ftalat berdampak pada libido.

"Kami menemukan hubungan antara tingkat ftalat wanita dan kepuasan seksual mereka,” ujarnya sebagaimana dilansir Mirror.

"Dan para peneliti di China menemukan bahwa pekerja dengan tingkat bisphenol A yang lebih tinggi (bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik), umumnya dikenal sebagai BPA, dalam darah mereka lebih cenderung memiliki masalah seksual, termasuk penurunan hasrat."

Penelitian dimulai pada 2017 ketika Dr Swan dan tim ilmuwan menemukan bahwa selama empat dekade terakhir, tingkat sperma di antara pria di negara-negara barat telah turun lebih dari 50 persen.

Penelitian tersebut menganalisis 185 penelitian yang melibatkan hampir 45.000 pria sehat.

Dalam bukunya Swan mengeksplorasi bagaimana gaya hidup dan paparan bahan kimia mempengaruhi kesuburan dan perkembangan seksual. Dia juga meneliti bagaimana hal ini dapat memengaruhi 'fluiditas gender dan kesehatan umum sebagai spesies'.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini