SELAIN di dunia nyata, keris juga dikenal dalam dunia pewayangan. Ada pusaka Pasopati, yakni senjata Arjuna pemberian Bhatara Guru (cocok), yang berupa sebuah bedhor (panah) yang ber-dapur Wulan Tumanggal (tidak cocok).
”Di dalam narasinya, Ki Dalang kadang-kadang menyebutkan (menurut lakonnya) sebagai berikut: 'dupi den unus curiganira, ponang pamor pusakaning Sang Dipati Ngawangga pating karetip pindha konang sayuta," kata Irwan Hadisuwarno, kolektor keris yang juga Budayawan Jawa.
Baca juga: Pertarungan Keris Kiai Sengkelat Versus Kiai Condong Campur Penyebar Pageblug Zaman Majapahit
Dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan pusaka tersebut adalah sebilah keris dhapur Jalak yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Jalak.
Untuk menambah 'keotentikan' ungkapan tersebut, dianggaplah bahwa seolah-olah negeri Ngawangga itu memang benar benar ada, dan terdapat di Pulau Jawa, persisnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, menurut Raffles, dalam bukunya : The History of Java.
Baca juga: Kisah Pengambilan Keris, Muncul Naga Siluman Sebesar Kelapa
Sampai kini, menurut cerita orang di dusun Wangga terdapat mesjid tempat dimana disimpan Kyai Jalak tersebut. Sebagai tambahan, Raffles juga menentukan tentang 'negeri-negeri' yang lain, misaInya: Kerajaan Dwarawati (Kresna) di daerah Pati.
Kerajaan Mandura (Baladewa) di Pulau Madura bagian barat. Kerajaan Mandaraka (Salya) di antara Tegal dan Pekalongan, Banjarjungut (Dursasana) di sekitar Kebumen, Talkandha (Bisma) di Banjarnegara, Kahyangan Indrakila (Bhatara Indra) di Jepara, Kerajaan Pringgandani (Gatotkaca) di sebelah Utara dataran tinggi Dieng, Kerajaan Indraprastha (Pandhawa) di Dataran Tinggi Dieng, dan lain sebagainya.
”Oleh karena itu, dalam menanggapi penentuan 'lokasi geografis' kerajaan, negeri-negeri perlu dipakai suatu kebijaksanaan yang cukup arif, karena kebenaran historisnya cukup menyangsikan,” tuturnya.