Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sosrokartono, Guru Bung Karno yang Kuasai 24 Bahasa dan Wartawan Perang Dunia I

Doddy Handoko , Jurnalis-Rabu, 31 Maret 2021 |06:22 WIB
Sosrokartono, Guru Bung Karno yang Kuasai 24 Bahasa dan Wartawan Perang Dunia I
Makam Sosrokartono. (Foto : Doddy Handoko)
A
A
A

Tahun 1919 didirikan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) atas prakarsa Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson. Dari tahun 1919 sampai 1921, RMP Sosrokartono, anak Bumiputra, mampu menjabat sebagai Kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa. Bahkan dia berhasil mengalahkan poliglot-poliglot dari Eropa dan Amerika sehingga meraih jabatan tersebut. Liga Bangsa-Bangsa kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Organization) pada tahun 1921.

Tahun 1919 RMP Sosrokartono juga diangkat menjadi Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Perancis di Belanda.

Suatu ketika terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur lebih kurang 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meski sudah diobati oleh beberapa dokter.

Ia menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh.

Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu.

Ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.

Mendengar penjelasan itu, ia merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi .

Akan tetapi, karena ia adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.

Ia kecewa, karena hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak sesuai dengan harapannya.

Datanglah ilham untuk kembali saja ke Tanah Air. Ia akhirnya pulang ke tanah air tahun 1925. Ia kemudian menetap di Kota Bandung.

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement