Ramadhan di Negeri Empat Musim: Beda Belahan Bumi Beda Pengalaman

Agregasi VOA, · Kamis 15 April 2021 06:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 18 2394920 ramadhan-di-negeri-empat-musim-beda-belahan-bumi-beda-pengalaman-V7ZWjOx8Oi.jpg Cahya (kerudung biru) bersama rekan-rekan sesama WNI di Minnesota. (Foto: Dok Pribadi/VOA)

DUA mahasiswi Indonesia yang belajar di belahan bumi yang berbeda, memaparkan makna dan pengalaman Ramadhan bagi mereka tahun ini. Selain merindukan suasana, makanan dan kudapan khas kampung halaman, kedua ibu yang menyelesaikan studi bersama keluarga itu tetap bersyukur, dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan khusyuk walau menghadapi keterbatasan di tengah pandemi.

“Alhamdullilah, Ramadhan membawa berkah,” demikian ungkapan Cahya Hanivah Yunizar yang menjalankan ibadah Ramadannya yang kedua di Twin City, Minnesota.

Bagi mahasiswi tahun pertama program doktoral di University of Minnesota itu, berkah Ramadhan tersebut berupa vaksinasi Covid-19, yang ia terima bersama beberapa mahasiswa Muslim Indonesia lainnya di sana. 

Baca juga: Tarawih Kilat di Indramayu 6 Menit Selesai 23 Rakaat, MUI: Sholat Itu Harus Khusyuk

Cahya menunaikan puasa pada musim semi. Suhu rata-rata berkisar 60-80 derajat Fahrenheit atau 14 hingga 24 derajat Celsius dan lama puasa sekitar 15 hingga 16 jam setiap harinya. 

Lain lagi pengalaman Pratiwi Utami. Mahasiswi program doktoral di Monash University ini lebih sering berpuasa pada saat musim dingin di Australia, di mana lama berpuasa tidak sepanjang di Indonesia. Sekarang ini, Australia sedang dalam musim gugur, di mana cuaca juga mulai sejuk. 

“Karena dingin tidak terasa begitu terasa, Alhamdulillah, kemudian tidak terasa begitu capek atau lemas karena kepanasan,” tutur Pratiwi. 

Ramadhan di negeri orang bagi Cahya dan Pratiwi tentu berbeda dengan di Tanah Air. Kedua mahasiswi program doktoral itu sama-sama merindukan makanan khas Indonesia dan kudapan khusus kampung halaman yang hanya muncul pada bulan puasa.

Cahya beruntung karena, “Mudah bagi saya menemukan bahan-bahan makanan khas Ramadhan di swalayan atau toko Asia terdekat di St. Paul atau Minneapolis, jantung Minnesota, seperti kolak pisang, kurma, es buah dengan sirup coco pandan hingga berbagai macam gorengan untuk takjil.” 

Di Australia, Pratiwi juga merindukan azan dari masjid, suara orang mengaji atau zikir. Ibu yang hampir tujuh tahun berpuasa di negeri empat musim itu mengenang saat berpuasa di Indonesia.

“Ketika Ramadhan ada lebih banyak orang mengaji, ada lebih banyak orang yang berzikir dan berdoa, menggunakan pengeras suara dan terdengar ke mana-mana,” ujarnya.

Namun, sebagai kaum minoritas di negara orang, kedua ibu yang sedang menyelesaikan studi bersama keluarga itu tetap bersyukur, dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan khusyuk walau menghadapi keterbatasan. 

Baca juga: Asyik Mesum saat Ramadhan, Wanita Ini Kedapatan Ngumpet di Kamar Mandi Tanpa Busana

Pratiwi sendiri beranggapan puasa Ramadhan merupakan suatu hal yang privat, tidak untuk diketahui orang. “Tidak ada suasana yang menggugah ketika Ramadhan sehingga kita sendiri yang tergerak untuk menggugah diri, semangat untuk berpuasa. Walaupun mungkin tidak banyak teman yang berpuasa di Australia,” ujarnya.

Pratiwi Utami dan keluarga.

Selama Ramadhan di Minnesota, Cahya juga bersyukur dengan fasilitas yang terjangkau dan sumber informasi yang mudah diakses bersama umat muslim lainnya. Pandemi tidak menghalangi ratusan ribu muslim yang mayoritasnya berasal dari Somalia di negara bagian itu untuk Sholat Jumat atau mengadakan pengajian di masjid atau balai pertemuan komunitas. 

Sejak Februari 2021 kegiatan ibadah harus terlebih dahulu dijadwalkan dengan mematuhi protokol kesehatan. 

“Pengumuman penting seputar ibadah selama Ramadhan, informasi kegiatan dan detail penjadwalan dapat diakses dengan mudah secara daring melalui website, milis atau jaringan komunikasi komunitas,” ujar Cahya. 

Kepada VOA, Cahya mengungkapkan jaringan komunitas muslim di Minnesota melalui para imam dan inisiator komunitas juga mendistribusikan ribuan vaksin Covid-19 yang dijatah khusus untuk penduduk minoritas, termasuk produk Johnson & Johnson yang sekali injeksi saja.

Bersama beberapa rekan mahasiswa Indonesia muslim lainnya, Cahya berharap seluruh muslim di Minnesota sudah tervaksinasi selama Ramadhan sehingga dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang.

Sementara itu di Australia, Pratiwi memiliki tugas tambahan: menjelaskan makna puasa kepada anaknya yang menghadapi tantangan besar saat jam makan siang di sekolah. Anaknya, yang masih duduk di kelas 4 SD, bersama beberapa teman muslimnya latihan untuk bertahan, mengasah kekuatan dan keteguhan hati untuk tetap beribadah sesuai ajaran agama, apapun cobaan dan tantangan yang sedang dihadapi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini