Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Taliban Klaim Kemenangan atas Penarikan Pasukan Amerika dari Afganistan

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Jum'at, 16 April 2021 |05:47 WIB
Taliban Klaim Kemenangan atas Penarikan Pasukan Amerika dari Afganistan
Taliban (Foto: BBC)
A
A
A

Dalam setahun ke belakang, tampaknya ada kontradiksi dalam "jihad" Taliban. Mereka berhenti menyerang pasukan internasional menyusul penandatanganan kesepakatan dengan AS, namun terus bertempur dengan pemerintah Afghanistan.

Akan tetapi, Haji Hikmat bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi. "Kami menginginkan pemerintahan Islam yang diatur dengan Syariah. Kami akan melanjutkan jihad kami sampai mereka menerima tuntutan kami."

Soal apakah Taliban akan bersedia membagi kekuasaan dengan faksi politik lain di Afghanistan, Haji Hikmat menyerahkannya pada kepemimpinan politik kelompok itu di Qatar. "Apapun yang mereka putuskan, kami akan terima," katanya berkali-kali.

Taliban tidak menganggap diri mereka sebagai kelompok pemberontak biasa, tetapi calon pemerintah. Mereka menyebut diri mereka "Emirat Islam Afghanistan", nama yang mereka gunakan saat berkuasa dari tahun 1996 sampai digulingkan, menyusul serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Sekarang, mereka memiliki struktur "bayangan" yang rumit, dengan beberapa pajabat bertanggung jawab mengawasi layanan sehari-hari di wilayah yang mereka kuasai. Haji Hikmat, sang walikota Taliban, mengajak kami berkeliling.

Kami dibawa ke sebuah sekolah dasar, penuh dengan anak laki-laki dan perempuan menulis di buku teks yang disumbangkan oleh PBB. Saat berkuasa pada 1990-an, Taliban melarang perempuan mendapat pendidikan, meskipun mereka sering membantahnya. Bahkan sekarang, ada laporan bahwa di wilayah lain perempuan yang berusia lebih tua tidak diizinkan masuk kelas. Akan tetapi di sini setidaknya Taliban berkata mereka aktif mendorongnya.

"Selama mereka mengenakan hijab, penting bagi mereka untuk belajar," kata Mawlawi Salahuddin, yang bertanggung jawab atas komisi pendidikan setempat Taliban. Di sekolah menengah, katanya, hanya guru perempuan yang diizinkan, dan mereka wajib mengenakan kerudung. "Jika mereka mengikuti Syariah, tidak masalah."

Sumber BBC mengatakan Taliban menghapus mata pelajaran seni dan kewarganegaraan dari kurikulum, mengganti mereka dengan mata pelajaran Islam, namun sisanya mengikuti silabus nasional.

Jadi apakah Taliban menyekolahkan putri-putri mereka sendiri? "Putri saya masih sangat muda, tapi setelah dia besar, saya akan mengirimnya ke sekolah dan madrasah, selama mereka mewajibkan hijab dan Syariah," kata Salahuddin.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement