Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ini Cerita 3 WNI Menjalani Bulan Ramadhan di Negeri Orang

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 20 April 2021 |19:23 WIB
Ini Cerita 3 WNI Menjalani Bulan Ramadhan di Negeri Orang
Foto: MNC Trijaya Fm
A
A
A

JAKARTA – Radio MNC Trijaya FM menghadirkan special program "Ramadhan 5 Benua", yang memberikan gambaran Diaspora Indonesia berpuasa di negeri orang.

Pada episode perdana, Senin pagi (19/4/2021), tiga narasumber dari negara yang berbeda hadir berbagi cerita, yaitu Duta Besar LBBP RI Caracas Imam Edy Mulyono, Content Creator Indonesia di Busan Reisha Prasasti, dan Jurnalis Indonesia di Tokyo Andylala Waluyo.

Berikut rangkuman cerita mereka: 

1. Caracas, Venezuela

Mayjen Dr. Imam Edy Mulyono merupakan Duta Besar Indonesia di Caracas yang baru tinggal selama 6 bulan di Caracas. Menurut Imam, berada di Caracas di tengah pandemi dan bulan Ramadhan, situasinya sangat menarik, pasalnya di Caracas penerapan ‘lockdown’ cukup ketat.

“Di Venezuela ini cara lockdownnya adalah tiap minggu berganti. Jadi seminggu disebut fleksibel, seminggu disebut radikal. Fleksibel artinya kegiatan bisa dilaksanakan dengan protocol kesehatan. Kemudian kalau radikal hamper total kegiatan itu lockdown,” ujarnya. 

Baca juga: Ramadhan di Negeri Empat Musim: Beda Belahan Bumi Beda Pengalaman

Menurut Dubes Imam, yang dirindukan dari Ramadhan di Indonesia adalah sholat Tarawih dan sholat Subuh setelah berbuka dan sahur. Karena pembatasan sosial yang sangat ketat, hampir seluruh kegiatan kerumunan dilarang. Namun, KBRI Caracas seminggu sekali mengundang WNI di Caracas untuk merayakan buka bersama, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat.

2. Busan, Korea Selatan

Reisha Prasasti adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus content creator yang baru tinggal di Busan sekitar 7 bulan. Menurut Reisha, berpuasa di Korea Selatan berlangsung selama kurang lebih 15 jam.

“Secara umum disini karena bukan negara muslim, jadi seperti biasa saja (suasananya), orang-orang beraktivitas. Mungkin untuk saya Muslim yang minoritas itu, karena restoran buka, ‘street food’ buka, kalau lewat lumayan wangi,” ujar Reisha.

Menurut Reisha suasana yang berbeda di Busan adalah sulitnya mencari takjil dan tidak ada adzan seperti di Indonesia. Pasalnya Masjid terdekat berada sekitar 20 menit dari tempat tinggal Reisha. Selain itu menurut Reisha, sangat sulit mencari makanan halal di kawasan Busan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement