Poldasu Tetapkan 5 Tersangka Kasus Alat Rapid Test Bekas di Bandara Kualanamu

Aminoer Rasyid, iNews · Jum'at 30 April 2021 05:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 340 2403190 poldasu-tetapkan-5-tersangka-kasus-alat-rapid-test-bekas-di-bandara-kualanamu-NBY2rHqlXp.jpg Poldasu menetapkan 5 tersangka kasus rapid test palsu di Bandara Kualanamu.(Foto:tangkapan layar)

MEDAN - Setelah penggeledahan pada Selasa, 27 April 2021 yang dilakukan oleh Tim Subdit IV Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara (Poldasu) di salah satu ruangan Bandara Internasional Kualanamu, lima orang ditetapkan sebagai tersangka kasus penggunaan alat tes cepat atau rapid test bekas.

Dalam konferensi pers pada Kamis, 29 April sore, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak mengatakan, lima tersangka berinisial PM, SR, DJ, M dan R merupakan karyawan Kimia Farma Diagnostik yang berpusat di salah laboratorium Jalan RA Kartini Medan.

Baca Juga: Layanan Rapid Test Bekas di Bandara Kualanamu Sudah Terjadi sejak Desember 2020

Panca mengatakan, modus para tersangka adalah mendaur ulang stik atau cotton buds untuk mengambil sampel swab antigen kepada calon penumpang bandara yang ingin memeriksa kondisi kesehatan dari Covid-19.

Baca Juga: Kimia Farma Buka-bukaan soal Rapid Test Antigen Bekas di Kualanamu

Pelaku berinisial PM yang merupakan business manager, merupakan aktor utama yang membawahi empat pelaku lainnya sejak Desember 2020.

"Berdasarkan hasil penyidikan sementara, 5 tersangka telah melanggar pasal 98 ayat (3) jo pasal 196 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan serta pasal 8 huruf (b), (d) dan (e) jo pasal 62 ayat (1) undang - undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen," ujar Kapolda Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak.

Kapolda menambahkan, sejak bulan Desember 2020 diprediksi seluruh tersangka meraup keuntungan sebanyak Rp1,8 miliar.

Kapolda menambahkan, seluruh barang bukti ratusan paket alat tes cepat, uang Rp177 juta dan puluhan lainnya sudah disita petugas, sedangkan para tersangka masih akan disidik.

Soal adanya kemungkinan tersangka lain yang terlibat, pihaknya masih menunggu hasil penyidikan lebih lanjut.

Sementara itu ahli kesehatan dari Satgas Covid-19 Sumatera Utara, dr Benni Satria menegaskan, apa yang dilakukan oleh oknum karyawan Kimia Farma tersebut tidak bisa dibenarkan karena stik atau cotton buds pengambil sampel sudah masuk kategori limbah B3, sehingga tidak boleh sembarangan didaur ulang atau dicuci.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini