Satgas Covid-19 Temukan Super Spreader Klaster Pengajian di Cianjur

Antara, · Sabtu 01 Mei 2021 22:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 525 2404075 satgas-covid-19-temukan-super-spreader-klaster-pengajian-di-cianjur-LyR6BR86aR.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAWA BARAT - Satgas Covid-19 Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menemukan klaster baru dari kelompok pengajian di Desa Sukajadi, yakni sebanyak 54 warga terkonfirmasi positif Covid-19 setelah dilakukan tes cepat antigen, yang sebagian besar dari mereka diketahui rutin mengikuti pengajian.

Juru Bicara Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Cianjur Yusman Faisal mengatakan, penemuan klaster pengajian tersebut berawal ketika seorang warga mengeluhkan kehilangan penciuman dan gejala yang mengarah ke corona, sehingga memeriksakan diri ke puskesmas setempat.

"Setelah dilakukan tes cepat antigen, warga tersebut dinyatakan positif Covid-19 dan segera dilakukan penelusuran karena informasi dari yang bersangkutan masih bayak anggota pengajian yang mengeluhkan hal yang sama," katanya, Sabtu (1/5/2021).

Tim Gugus Tugas Kecamatan Cibinong langsung melakukan penelusuran dan menemukan 49 orang warga di satu kampung di Desa Sukajadi, positif Covid-19 setelah dilakukan tes cepat antigen serta lima orang lainnya di kampung sebelahnya yang diketahui rutin mengikuti pengajian.

Baca juga: Pemda Harus Sosialisasikan Kebijakan Terkait Mudik Agar Masyarakat Paham

Total warga yang terpapar sebanyak 54 orang. Artinya penyebaran ini menjadi Super Spreader karena memapar banyak orang. Sehingga langsung dilakukan isolasi mandiri di bawah pengawasan gugus tugas dan Satgas Covid-19 Cianjur.

Sementara itu, penelusuran masih tetap dilakukan dari mana awalnya pasien yang sebagian besar ibu rumah itu tertular pertama kali.

Baca juga: Kasus Pemalsuan Alat Tes Antigen, Satgas Covid-19: Ingat Sekarang Kita Sedang Krisis!

"Ini merupakan kelompok pengajian rutin ibu-ibu yang kerap digelar di desa tersebut. Kami masih menelusuri dan mendalami siapa yang pertama kali terpapar, nanti akan ditemukan dari riwayat perjalanan dan lain-lain," kata Yusman.

Pihaknya menduga penularan terjadi saat libur panjang dan saat warga menjalankan tradisi papajar atau tradisi jalan-jalan dan makan di tempat wisata sebelum masuknya bulan puasa, namun hal tersebut akan ditelusuri, sehingga antisipasi terus dilakukan.

"Kami akan terus pantau kondisi kesehatan warga yang saat ini masih menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing di bawah pengawasan gugus tugas kecamatan dan tenaga kesehatan setempat," katanya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini