Nani Salah Pesan di Online Berujung Tewasnya Anak Ojol di Yogyakarta

Tim Okezone, Okezone · Senin 03 Mei 2021 19:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 03 340 2404985 nani-salah-pesan-di-online-berujung-tewasnya-anak-ojol-di-yogyakarta-QkQhw3c7dA.jpg Nani Apriani tersangka pemberi sate beracun ditangkap polisi.(Foto:Dok Okezone)

BANTUL - Salah pemesanan menjadi awal petaka kasus takjil beracun mengandung sianida yang dilakukan Nani Apriani yang menewaskan seorang bocah anak ojek online (ojol) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengatakan, racun tersebut dipesan oleh Nani melalui aplikasi online pada 28 Maret 2021. Dalam riwayat pembelian melalui e-commerce itu, pesannya sodium sianida.

"Jadi, pesanannya di aplikasi tersebut Sodium Sianida. Tapi setelah dicek, ternyata Kalium Sianida," katanya.

Baca Juga: Dendam Asmara, Motif Perempuan Cantik Pengirim Takjil Bersianida untuk Aiptu Tomi

Aksi Nani memberi racun sianida merupakan anjuran dari salah seorang pelanggan salon tempatnya bekerja berinisal R.

"Ada salah satu pelanggan salon berinisial R yang suka terhadap tersangka, namun tersangka tidak suka dengan R. Sebab, tersangka menyukai pelanggan lain, yakni Tomy alias T," kata Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Ngadi, Senin (3/5/2021).

Baca Juga: Detik-detik Nani Apriliani Ditangkap, Wanita Cantik Pemberi Takjil Maut Bersianida

Tetapi, setiap tersangka dan T memiliki permasalahan, tersangka selalu bercerita kepada R. Lalu R menyarankan untuk memberikan pelajaran kepada T, dengan memberikan Kalium Sianida yang dicampur dengan makanan. Menurut R, efek Kalium Sianida setelah dimakan hanya muntah dan diare.

"Akhirnya tersangka mengikuti anjuran R dengan jalan membeli KCN secara online. KCN tersebut kemudian dicampurkan di dalam bumbu sate ayam yang sudah dibeli sebelumnya oleh tersangka," tutur AKP Ngadi.

Ketika hendak memberikan makanan tersebut kepada T, tersangka mendapatkan anjuran dari R untuk mengirimkan sate bercampur KCN menggunakan ojek online.

"Namun, tanpa aplikasi agar tidak diketahui siapa yang mengirim dan tersangka mengikuti saran tersebut," ucapnya.

(saz)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini