Polisi Selidiki Pembunuh Berantai yang Racuni Lebih dari 1000 Kucing

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 05 Mei 2021 15:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 18 2406067 polisi-selidiki-pembunuh-berantai-yang-racuni-lebih-dari-1000-kucing-knJWLuJ2Eb.jpg Foto: Reuters.

SEOUL - Sebuah kelompok hak asasi hewan Korea Selatan telah meminta Presiden Moon Jae-in untuk menghentikan aktivitas seorang pria yang diduga telah membunuh lebih dari 1.000 kucing jalanan. Polisi sekarang sedang menyelidiki kasus tersebut.

Pihak berwenang sedang menyelidiki kematian mencurigakan dari beberapa kucing liar di Kota Daejeon setelah penduduk setempat melaporkan menemukan bangkai hewan di dekat daging yang dicampur dengan racun tikus, surat kabar Korea Times melaporkan.

BACA JUGA: Polisi Tangkap Pria Pembunuh Kucing di Bekasi

Petugas mengambil satu bangkai dan daging yang terkontaminasi untuk dianalisis, dan sedang mempelajari rekaman CCTV dari daerah Kota Sintanjin. Mereka juga mencari orang yang membeli racun tikus sekira sebulan yang lalu dari toko obat lokal.

Aktivis hak-hak hewan mengatakan bahwa setiap hari mereka telah menemukan lebih dari 30 potong ayam mentah dan dimasak yang disemprot dengan zat yang digunakan untuk membunuh hewan pengerat, dan mereka telah melihat lebih dari 1.000 kucing mati selama 13 tahun terakhir di daerah tersebut. Mereka juga menunjukkan bahwa bahan kimia beracun yang tertinggal di jalanan juga berpotensi melukai anjing dan bahkan anak-anak.

Kelompok Animal Rescue Korea 119 percaya bahwa orang di balik pembunuhan kucing adalah seorang pria berusia 70-an, demikian diwartakan RT.

BACA JUGA: Aksi Jagal Kucing Terjadi di Kalideres Jakbar, Kucing Dibunuh untuk Dimasak

Mereka mengklaim telah menangkap pria yang meninggalkan makanan beracun pada 2018, tetapi mereka tidak dapat membuktikan kesalahannya karena pada saat itu tidak ada bukti bahwa kucing telah mati karena makanan tersebut. Pada saat yang sama, mereka mengatakan bahwa lelaki tua itu - yang dijuluki 'pembunuh Sintanjin' - telah didenda 700.000 won (sekira Rp8,9 juta) pada tahun 2016 karena melanggar undang-undang perlindungan hewan.

Sebuah petisi online diluncurkan meminta Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk menghentikan pembunuh kucing berantai di Daejeon, di tengah apa yang disebut "ketidakpedulian pemerintah dan lembaga lokal selama lebih dari 10 tahun." Petisi tersebut ditandatangani oleh lebih dari 43.000 orang.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini