DALAM jurnal ilmiah berjudul "Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren" diterbitkan di FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman karya Rizal Mumazziq Z STAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember, ditulis penyebaran prajurut Pangeran Diponegoro di wilayah Jawa Timur, pasca-perang jawa.
Di Jawa Timur jejak perjuangan laskar Diponegoro bisa dilacak melalui teritorial Magetan. Di kota ini, ada Pesantren Takeran, yang didirikan oleh Kiai Kasan Ngulama (Kiai Hasan Ulama), seorang guru Tarekat Syattariyah, yang juga merupakan putera Kiai Khalifah, pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Kiai Khalifah alias Pangeran Kertopati usai perang mengungsi ke arah timur Gunung Lawu, Magetan, dan membangun sebuah padepokan agama di Bogem, Sampung, Ponorogo.
Baca Juga: Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa
Sezaman dengan Kiai Khalifah, seorang sahabatnya saat berperang, Kiai Abdurrahman, juga mendirikan sebuah masjid di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Di kemudian hari, salah seorang putera Kiai Khalifah, yaitu Kiai Hasan Ulama, mendirikan pesantren di Takeran Magetan.
Di pondok yang merupakan cikal bakal Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM), Kiai Hasan melakukan kaderisasi para santri yang kelak juga banyak mendirikan pesantren lain di berbagai daerah.
Berasal dari Bagelen, Purworejo, trio veteran Perang Jawa: Kiai Nur Qoiman, Nuriman dan Ya’qub, memutuskan mbabat alas di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Di desa ini, tiga bersaudara tersebut mendirikan sebuah masjid.
Keberadaan masjid sederhana ini kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren salaf di era kepemimpinan Kiai Murdiyah alias Kiai Muhammad Asrori, yang merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan.