Menurut Dosen Paramadina ini, tiga kali Pilpres, Golkar selalu gagal mengajukan kandidat. Karena itu, perkawinan Golkar-Demokrat bisa menjadi alternatif untuk mengajukan kekuatan politik nasionalis-moderat untuk menghalau praktik politik identitas yang notabene menguntungkan PKS dan PDIP. Kendati demikian, jika Golkar dan Demokrat berkawin, mereka harus memasukkan unsur kekuatan politik Islam moderat, seperti PKB, PAN, atau PPP untuk mendukungnya. Sehingga basis kekuatan nasionalis-religius tetap kuat di sana.
"Adapun nama-nama seperti Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Eric Tohir, dan lainya, kemungkinan akan terkendala oleh dukungan partai politik. Kecuali jika mereka "membeli" mesin partai seperti yang dilakukan Sandiaga Uno saat Pilpres 2019 lalu," beber Umam.
(Sazili Mustofa)