RIYAN ‘Momod’ Bahriansyah kecil di desa Bendan, Pekalongan, Jawa Tengah. Sejak SD Momod kecil sudah terbiasa berjualan agar bisa membantu keluarganya secara perekonomian. Saat itu, sekitar tahun 1977, orangtuanya berjualan Songko. Sementara Momod yang baru menginjak kelas 3 SD kerap berkeliling kampung untuk menjajakan kue bolang-baling.
Beranjak SMP, Momod remaja tak lagi menjajakan kue bolang-baling dengan berkeliling kampung. Tapi ia lebih memilih untuk pergi ke Stasiun Pekalongan yang letaknya tak begitu jauh dari rumahnya.
Baca Juga: Jalur Tengkorak Pekalongan-Demak, Hati-hati di Alas Roban dan Perbatasan Semarang
Di sana, ia kerap bersama teman-teman sebayanya untuk berjualan nasi bungkus, teh botolan, atau apa pun yang bisa dijualnya kepada para penumpang. Selepas SMA Momod memutuskan untuk langsung bekerja. Dan karena keterbatasan lapangan pekerjaan di Pekalongan saat itu serta hanya berbekal ijazah SMA, Momod pun harus rela bekerja ala kadarnya.
Saat itu, Momod bekerja di salah satu bengkel tambal ban truk yang berada di pinggiran jalur Pantura. Jalur yang tak pernah sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Pekerjaannya memang terkesan remeh dan tak bernilai di mata orang banyak.
Momod melakoni pekerjaan yang sekasar itu hampir setengah tahun lamanya. Dan karena pekerjaannya itulah ia pun harus rela menjelma menjadi seperti kelelawar.
Di setiap malam Momod harus terjaga untuk bekerja, sedangkan di waktu pagi hingga petang ia memilih terlelap untuk mengembalikan kembali tenaga.
Baca Juga: Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa
Di satu titik tertentu ia merasa jenuh lagi suntuk terhadap pekerjaannya yang bisa dikatakan sebagai tukang tambal ban truk. Momod menuruti intuisinya untuk pergi ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Loper koran, itulah pekerjaan pertama yang didapatkan oleh Momod begitu menetap di Tanjungpinang. Tak jauh dari tempatnya biasa ngetem, ia melihat ada tempat kursus Bhs. Inggris.
Demi mampu memenuhi sedikit keinginannya agar bisa mengecap bangku perkuliahan, maka ia pun memutuskan untuk mengikuti kursus itu. Maka, sembari mengojek dan menjadi loper koran, Momod remaja pun memanfaatkan waktunya untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris.
Singkat cerita, setelah mengalami pahit getirnya kehidupan, sejak 1987 sampai dengan 1992 ia sudah mengantongi banyak pengalaman, prestasi dan relasi. Dan akhirnya, ia pun memutuskan untuk hijrah ke Ibu Kota dengan harapan agar dapat lebih berkembang lagi. Dan sesampainya di Jakarta, ia pun bekerja di sebuah perusahaan travel yang didapatkannya dari relasinya.
Pindah ke Ibu kota rupa-rupanya membuat kehidupan Momod memang berubah. Momod, yang sempat gonta-ganti perusahaan, hingga akhirnya bekerja di sebuah perusahaan travel Taiwan di bilangan Kota, Jakarta
Ia perlahan telah memiliki rumah, mobil, hingga mampu mewujudkan citacitanya yang sempat tertunda dulu yaitu kuliah. Momod berkuliah di UPI YAI jurusan Teknik Informatika.
Namun Momod harus merasakan getirnya kehidupan lagi ketika prahara ’98 di akhir kejayaan Orde Baru pecah. Pada prahara yang dipicu oleh krisis moneter itu telah memaksa Momod untuk melepaskan harta benda yang merupakan hasil jerih payahnya selama itu.
Momod kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan training bagi siapa pun yang ingin bekerja di sebuah perusahaan travel. Saat itu, ia menamakan lembaga pendidikannya Nusantara Tourism College. Di sana, ia mengajarkan bagaimana cara menghitung tiket secara manual sampai dengan menggunakan sistem online.
Pernah, di suatu waktu, salah satu muridnya mengatakan jika ia tak perlu dicarikan kerja setelah lulus dari tempat itu. Katanya, kalau ia bisa membuat sistem online sendiri maka ia sudah bisa membuat usahanya sendiri. Mulai dari situlah, Momod kemudian membuat website pertamanya yang berjualan dengan sistem yang dibuatnya sendiri.
Momod akhirnya mendirikan Bee Holiday, perusahaan travel yang dibangunnya sendiri. Hingga yang tadinya tidak berbayar kini mulai berbayar. Hingga website-nya pun mulai disempurnakannya dan semakin disempurnakannya hingga saat ini.
Sampai dengan saat ini, Bee Holiday sudah memiliki ribuan mitra yang produktif.Beberapa di antaranya bahkan sudah bisa bergerak secara mandiri. “Karena patah tumbuh, hilang berganti,” kata Momod.
Tak hanya mengembangkan Bee Holiday, kini Momod pun tengah membangun bisnis kargo dan bus periwisata punya 6 buah ,yang sama-sama masih berlabelkan Bee Holiday. Dan yang tengah berkembang saat ini adalah bisnis bus pariwisata.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.