Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Perjuangan Keluarga Selamatkan Nyawa Sang Ayah Akibat Covid-19 yang Kian Mengganas di India

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 19 Mei 2021 |11:40 WIB
Kisah Perjuangan Keluarga Selamatkan Nyawa Sang Ayah Akibat Covid-19 yang Kian Mengganas di India
Kisah perjuangan sebuah keluarga menyelamatkan sang ayah dari keganasan Covid-19 di India (Foto: BBC)
A
A
A

  • Pukul 19.30 malam: Mencari ranjang tempat tidur di rumah sakit

Kadar oksigen Anoop menjadi stabil saat dia berada di gurdwara, tetapi para relawan menyarankan agar dia dibawa ke rumah sakit, karena mereka tidak dapat merawatnya di sana tanpa batas waktu.

Tushar memohon kepada mereka untuk menjaga ayahnya di kuil, tapi dalam hatinya dia paham bahwa dia harus menemukan tempat tidur di rumah sakit.

Keluarga Anoop membawanya ke rumah sakit MMG yang dikelola pemerintah. Setelah menghabiskan satu jam, mereka menyadari bahwa dia tak akan mendapatkan tempat tidur dalam waktu dekat.

  • Pukul 20.00 malam: Mencari tabung oksigen

Pada pukul 20.00 malam, keluarga Anoop masih berada di rumah sakit. Tushar mengontak saudaranya, yang ada di rumah, dan memintanya agar pergi ke pabrik oksigen di daerah Lal Kuan untuk mencari tabung oksigen.

Saudara lelakinya masuk ke dalam antrean panjang di pabrik, dan dia memutuskan untuk menunggu gilirannya.

Tushar menelepon saudaranya setiap sekian menit. Dia paham jika mereka tidak menemukan tabung oksigen atau tempat tidur rumah sakit, ayahnya tidak bisa bertahan sampai malam.

  • Pukul 20:30 malam: Menyerah di rumah sakit

Tushar membawa pulang ayahnya. Dia kemudian meninggalkan rumah untuk membeli tabung oksigen berukuran kecil sebanyak 25 buah untuk membantu Anoop bernapas.

Tabung kecil ini menyuplai oksigen dalam dosis kecil secara berkala tetapi tidak dapat memberikan pasokan terus menerus.

Setiap kaleng berharga 2.500 rupee (Rp489.000). Biasanya harganya kurang dari 1.000 rupee (Rp196.000). Ini jumlah yang tidak murah bagi keluarga kelas menengah seperti Saxenas, tetapi mereka tidak punya pilihan.

Tushar mencoba untuk menjaga ayahnya agar tetap stabil dengan pasokan oksigen itu, sambil menunggu saudara laki-lakinya kembali dengan tabung oksigen.

Pada pukul satu pagi, saudaranya kembali dengan tangan hampa lantaran pabrik tutup sebelum dia mendapatkan tabung oksigen . Mereka terus menggunakan tabung oksigen berukuran kecil itu dan Anoop perlahan-lahan stabil.

  • Minggu (2/5)

  • Pukul 10 pagi: Mencari tempat tidur di rumah sakit

Dokter sekali lagi memberi arahan bahwa Anoop perlu dirawat di rumah sakit. Keluarga mengantar Anoop ke Rumah Sakit Gargi, yang merupakan layanan kesehatan terdekat dari rumah mereka.

Seorang staf rumah sakit memberitahu mereka agar mencari rumah sakit lain karena tidak ada tempat tidur di sana.

Keluarga kemudian membawa Anoop ke Rumah Sakit Sarvodya, tetapi tidak ada tempat tidur tersedia. Sementara itu, Anoop kesulitan bernapas dan hanya ingin pulang.

Tapi keluarganya tidak menyerah.

Pada pukul 12:05, mereka sudah berada di Rumah Sakit Santosh - fasilitas medis ketiga yang mereka datangi pagi itu - dan mereka disuruh menunggu di luar bangunan rumah sakit.

Gerbang rumah sakit dikelilingi oleh petugas keamanan, membuat keluarga tersebut merasa seperti berada di luar penjara.

Mereka menunggu selama 10 menit dan memutuskan untuk mencoba rumah sakit lain.

Tushar mulai bertanya-tanya di rumah sakit mana ayahnya akan bernapas terakhir kalinya. Tetapi ketika ibunya menelepon, dia meyakinkannya bahwa mereka telah menemukan tempat tidur, dan semuanya akan baik-baik saja.

Mereka tiba di rumah sakit keempat pada pukul 12.30. Satpam di luar memberitahu mereka untuk menunggu apakah ada pasien yang dipulangkan, atau meninggal dunia.

Tushar tidak percaya ayahnya bakal mendapatkan tempat tidur dengan bergantung pada kematian orang lain.

Sementara itu, tabung oksigen berukuran kecil tak lagi dapat diharapkan dan Anoop kembali terengah-engah.

  • Pukul 14.00 siang: Kuil membuat keluarga Anoop lega

Kondisi Anoop semakin memburuk dan keluarga tersebut memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi dan membawanya kembali ke gurdwara - satu-satunya tempat yang sejauh ini telah menawarkan bantuan.

Tingkat oksigennya mulai meningkat setelah dia terhubung ke silinder.

Saat Tushar membawa ayahnya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dia meminta saudara laki-lakinya untuk membeli oksigen silinder di tempat terdekat, tetapi antreannya terlalu panjang.

Seseorang mengatakan kepadanya bahwa sebuah pabrik di dekat distrik Bulandshahr - satu jam jauhnya - menjual tabung oksigen. Tetapi pada saat saudara laki-laki Tushar sampai di sana, tempat itu sudah tutup.

Saudara laki-laki Tushar kembali ke Ghaziabad dan membeli silinder kecil lima liter di pasar gelap.

  • Pukul 17.30 sore: Perjuangan terakhir

Sudah hampir delapan jam sejak dokter memintanya mencari pertolongan. Tapi Anoop masih berada di gurdwara.

Sementara itu, putrinya, yang tinggal di Kota Aligarh sekitar 120km jauhnya, menemukan tempat tidur di rumah sakit swasta dan meminta keluarganya untuk membawanya ke sana.

Mereka memulai perjalanan sekitar jam enam sore, dan Anoop yang tetap terhubung dengan tabung oksigen berukuran kecil, tiba di rumah sakit pada jam 20.30 malam.

Dia segera dilarikan ke ruangan perawatan intensif. Dokter di sana memberi tahu mereka bahwa Anoop kritis dan peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil.

  • Senin (3/5)

  • Pukul 04.00 pagi: Kalah dalam pertarungan

Setelah delapan jam menunggu, seraya berdoa memohon keajaiban, dokter memberi tahu keluarga bahwa kondisi Anoop memburuk. Tushar berandai-andai jika saja mereka bisa berbuat lebih banyak.

Enam jam kemudian, pada pukul 10.00 pagi waktu setempat, dokter memberi tahu keluarga tersebut untuk mengucapkan pesan terakhir mereka. Anoop meninggal satu jam kemudian, pukul 11 pagi.

Tushar berharap tidak ada orang lain yang harus menyaksikan orang tua mereka berjuang untuk bernapas seperti ikan yang menggelepar dipaksa keluar dari air; dia berpikir tentang bagaimana sistem yang membunuh ayahnya, dan bukan Covid-19.

Namun keluarga tersebut bahkan tidak sempat bersedih hati karena kondisi istri Anoop mulai memburuk. Mereka kembali ke rumah ke Ghaziabad.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement