Share

Mayat Anak Disimpan 4 Bulan untuk Usir Genderuwo, Kriminolog: Dukunnya Kebablasan

Agregasi KR Jogja, · Rabu 19 Mei 2021 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 512 2412405 mayat-anak-disimpan-4-bulan-untuk-usir-genderuwo-kriminolog-dukunnya-kebablasan-sgVvE52XfJ.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kematian Ais (7) dengan mayatnya disimpan 4 bulan dalam kamar sebagai ritual mengusir genderuwo menuai sorotan di masyarakat.

Apalagi, si dukun supranatural dan kedua orangtua mempercayai Ais bisa dihidupkan kembali dengan berubah perangai menjadi anak tidak nakal.

Kriminolog UGM, Soeprapto mengatakan bahwa selama ini masih banyak anak menjadi korban dari orangtua yang tidak memahami 4 fungsi keluarga yakni edukasi, perlindungan, ekonomi, dan reproduksi.

“Kedua, tidak memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, kemudian ketiga, tingkat rasionalitasnya rendah dan keempat, tingkat maturity-nya rendah. Akibatnya ketika ada hal yang tidak teratasi dengan mudah seperti kenakalan anak, sakit yang belum diketemukan, maka larinya jika tidak menjustifikasi gangguan makhluk halus maka arahnya adalah santet, selalu itu,” ujarnya, Rabu (19/5/2021).

Dalam kasus ini, Soeprapto menilai, tingkat maturity kedua orangtua masih sangat rendah sehingga mudah dipengaruhi pihak lain. Alhasil, sang anak menjadi korban.

Baca juga: Ritual Usir Genderuwo Supaya Anak Tidak Nakal, Kakek Korban: Cucu Saya Lincah & Baik!

“Mengusir genderuwo dengan cara merendam kepala anak sampe pingsan itu jelas bukan tindakan wajar. Biasanya mengusir makhluk halus dari tubuh seseorang cukup dengan menekan ujung jempol atau dengan percikan air, atau dengan ranting pohon kelor, tapi ini kok pakai merendam kepala," lanjut dia.

"Apa yang dilakukan dukun itu sebetulnya bukan berniat membunuh, tapi membuat gelagepan (sulit nafas) dengan tujuan hantunya tidak nyaman terus pergi, tapi ternyata kebablasan sampai meninggal,” tambahnya.

Ia menilai, dua dukun yang melakukan ritual usir genderuwo ke Ais bisa dipidana dengan sangkaan tindakan lalai hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Meski demikian, menurut dia, keduanya tak memiliki niat membunuh, bahkan sebaliknya yakni ingin menyembuhkan dalam artian Ais tetap hidup dan tidak nakal.

Baca juga: Ritual Usir Genderuwo Tewaskan Bocah di Temanggung, Jangan Sampai Terulang!

“Jika diusir dengan pegang jempol atau pegang kepala atau diperciki air dengan doa atau dihalau dengan ranting pohon kelor tidak sembuh, maka sakit atau kelainan si anak bukan karena kerasukan tapi karena sebab yang lain. Kelalaiannya di sini, harusnya diperiksakan atau dikonsultasikan ke dokter spesialis saraf, neurolog, psikiater, psikolog, atau ahli virus, jangan bertahan dengan cara tersebut,” tandas dia.

Saat ini, polisi sudah memeriksa empat orang yakni dua dukun dan kedua orangtua Ais. Keempatnya terancam pasal pidana karena menyebabkan Ais meninggal dunia setelah menjalani ritual penyembuhan.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini