Diduga Ada Kejanggalan, Keluarga Minta Makam Warga di Malang Dibongkar

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 21 Mei 2021 02:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 519 2413214 diduga-ada-kejanggalan-keluarga-minta-makam-warga-di-malang-dibongkar-JEoFyMXoQ1.jpg Makam warga di Malang dibongkar. (Foto : Avirista Midaada)

MALANG - Polres Malang bersama tim dokter forensik RS dr Syaiful Anwar (RSSA) membongkar makam Siti Chotimah (41) di TPU Sukorejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Siti Chotimah ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (20/3/2021) di Waduk Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang, dengan dugaan kecelakaan.

Pembongkaran makam dilakukan dengan penjagaan ketat kepolisian dari Polres Malang. Tampak Kabag Ops Polres Malang Kompol Hegy Renanta memimpin langsung pembongkaran makam pada Kamis (20/5/2021).

Pihak keluarga meminta makam Siti Chotimah dibongkar lantaran adanya ketidakwajaran kematian perempuan yang kala itu baru melahirkan dua bayi kembar berjenis kelamin perempuan.

Adik kandung korban, Abdulrohman (34), mengatakan, kejanggalan kematian korban diketahui saat keluarga memandikan jenazah.

"Saat memandikan jenazah, ada luka di bagian kaki, lengan, dan kepala. Kami menyakini ada kejanggalan. Maka dari itu keluarga meminta ada otopsi dengan membongkar makam," ucap Abdulrohman, kepada wartawan di TPU Sukorejo, Kamis.

Abdulrohman mengaku, kondisi jenazah kakak kandungnya utuh. Saat kejadian, korban disebut baru melahirkan bayi kembar, yang masih berusia 12 hari. "Baru melahirkan bayi kembar, saat kejadian bayi baru berusia 12 hari. Sudah menikah 1,5 tahunan," katanya.

Abdulrohman menambahkan, informasi yang diterima keluarga, sebelum kejadian korban pergi meninggalkan rumah pada 18 Maret 2021 malam.

Kesokkan harinya, ditemukan sepasang sandal jepit milik korban di Jembatan Blobo, Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Lokasi sandal ditemukan tak jauh lokasi tempat tinggal suami korban. "Baru hari Sabtunya, korban ditemukan meninggal di Waduk Sengguruh," tuturnya.

Menurut Abdulrohman, dengan adanya proses autopsi keluarga ingin mengetahui penyebab pasti kematian korban. Selama ini, korban diduga bunuh diri dengan meloncat ke aliran sungai.

Baca Juga : Cerita Pekerja Pindahkan 740 Makam untuk Pembangunan Kantor Kelurahan

"Kami keluarga ingin mengetahui pasti penyebab kematian korban, dengan dilakukan autopsi," tuturnya.

Terpisah Kapolres Malang AKBP Hendri Umar menuturkan, dari hasil pembongkaran makam dan pemeriksaan awal dokter forensik tidak menemukan adanya tindakan kematian yang tidak wajar kepada korban.

"Dari keterangan awal dokter forensik memang benar ini adalah kecelakaan tidak ada sifatnya mengenai penganiayaan, atau ke pembunuhan, tidak ada," ujarnya.

Luka yang dicurigai keluarga korban dikatakan Hendri, sebab adanya benturan saat korban terjatuh ke sungai dan terbawa arus aliran sungai hingga ke Bendungan Sengguruh, Kepanjen.

"Luka yang ditemukan di tubuh korban, awalnya di pelipis mata, itu saat jatuh kena tebing itu membuat tidak sadarkan diri. luka-luka lainnya tergores, segala macamnya bisa dikatakan itu karena kena batu, atau benda-benda itu saat hanyut di sungai tersebut," tuturnya.

"Jadi nanti kami menunggu klarifikasi resmi dari dokter forensik. Info awal tidak mengarah ke tanda penganiayaan atau pembunuhan," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Siti Chotimah (41), diduga bunuh diri meloncat dari jembatan. Mayatnya ditemukan di waduk Sengguruh. Sebelum pergi meninggalkan rumah, Siti meninggalkan surat bertulis 'Yank aq pergi'.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini